Exotic Mengare Gresik, Wisata Mangrove dengan Spot Mancing dan Benteng Lodewijk

Pulau Exotic Mengare menawarkan pemandangan pantai yang indah di tengah reruntuhan benteng Lodewijk yang dibangun 1808. (Foto: BatuTIMES)
Pulau Exotic Mengare menawarkan pemandangan pantai yang indah di tengah reruntuhan benteng Lodewijk yang dibangun 1808. (Foto: BatuTIMES)

GRESIK - Exotic Mengare bisa menjadi wisata alternatif keluarga. Selain menawarkan keelokan alam yang asri di tepi selat Madura, daya tarik wisatanya pun lengkap.

Ada eksotisme Pulau Mengare, Pantai Benteng, Pantai Ayang-ayang, Benteng Lodewijk, Pulau Burung, Gili Bayangan, Kali Semprong, spot mancing dan pemandangan hutan bakau tropis.

Lebih dari itu, lokasi wisata ini relatif enteng di kantong. Wisatawan tak perlu banyak mengeluarkan biaya untuk menuju ke semua titik lokasi.

Libur Lebaran 2018 lalu, BatuTIMES berkunjung ke pulau indah ini. Lokasinya masuk Kecamatan Bungah Kabupaten Gresik, Jawa Timur.

Dari Desa Sembayat ke arah timur, kurang lebih berjarak sepuluh kilometer. Jalan menuju ke sana melintasi deretan pohon mangrove di kanan kiri jalan. Ratusan tambak dari kejauhan tampak seperti ubin yang ditata rapi.

Tiga desa yang dilalui dari Desa Sembayat adalah Desa Kramat, Watu Agung dan Desa Mengare Tanjungwidoro.

Setelah menyusuri jalan desa, wisatawan bakal disambut ombak laut utara Jawa yang tidak terlalu besar. Untuk mencapai Exotic Mengare, harus  menyeberang sebentar dengan menggunakan perahu. Rasa capek pun terbayar lunas setelah menginjakkan kaki di pulau kecil ini.

Tanaman mangrove yang berkhasiat obat, penawar racun dan penahan abrasi punya daya pikat tersendiri bagi pengunjung. Mereka berswafoto dengan latar pohon mangrove.

Di balik mangrove, juga menyimpan memori sejarah. Yakni benteng Lodewijk yang berdiri di atas lahan kurang lebih 12 hektar.

Salah satu sudut reruntuhan benteng Lodewijk yang dipotret dari kejauhan. (Foto: Muklas/BatuTIMES)

Menurut Eko Jarwanto (http://ekojarwantosmadah.blogspot.com), jejak sejarah pembangunan Benteng Lodewijk di Mengare dimulai ketika Gubernur Jenderal Herman William Daendels mulai berkuasa di Jawa tahun 1808.

Dampak kekalahan Pemerintahan Belanda atas Perancis berakibat ditunjuknya Herman Willem Daendels sebagai Gubernur Jenderal di Hindia Belanda sejak tahun 1808.

Tugas utama penunjukannya adalah untuk mempersiapkan pertahanan Jawa dari serangan Inggris.

Demi tujuan tersebut, maka Herman Willem Daendels memerintahkan pembuatan Jalan Raya Pos dari wilayah Anyer sampai Panarukan, melintasi wilayah seluruh Pantai Utara Jawa. Dengan tujuan agar tentaranya lebih mudah untuk bergerak.

Selain pembuatan jalan, Herman Willem Daendels juga merencanakan pembuatan dua benteng pertahanan. Masing-masing berada di Merak (Jawa Barat) dan di Pulau Mengare (Gresik) Jawa Timur.

Benteng di Gresik ini dibangun dengan tujuan untuk mengawasi berbagai aktivitas politik dan militer di sekitar perairan Selat Madura, Pelabuhan Surabaya, dan Pulau Madura. Semua upaya itu adalah untuk mengantisipasi pendaratan pasukan Inggris.

Gatot Winarko, Ketua Tim Kerja Pengembangan Destinasi Wisata Pulau Mengare mengatakan, kesadaran warga sekitar untuk melestarikan alam perlu dipupuk sejak dini.

Sebab, masyarakat masih kurang sadar dengan kekayaan alam sekitar serta keindahan lingkungan di pulau Mangare.

Untuk itu, para pecinta alam melakukan pendekatan ke warga sekitar agar menjaga alam dan lingkungan. Jangan lagi warga menjarah batu-batu benteng dan kayu, serta kebiasaan membuang sampah sembarangan.

"Warga yang hidup di sini jarang keluar, jalur utama adalah air. Saat mereka butuh batu dan kayu untuk membangun rumah dan jalan, ya menjarah benteng. Kini, Benteng Lodewijk hanya tinggal fondasi," kata Gatot kepada BatuTIMES saat di lokasi Banteng Lodewijk.

Pria yang dikarunia dua anak ini menjabarkan, hamparan pantai penuh dengan cangkang dan biota laut.

Ada sebanyak 17 jenis magrove dari 8 genus hidup di sekitar pulau. Juga penghuni kera ekor panjang, dan burung king fisher (sebesar murai Batu).

Untuk itu, Pulau Mengare layak dijadikan tempat rekreasi dan edukasi kepada masyarakat luas.

"Kami terus beraktivitas dan menanamkan cinta lingkungan kepada warga," kata Gatot yang juga ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Himpunan Pramuwisata Indonesia wilayah Surabaya ini.

Melihat potensi pulau ini, ia bekerja sama dengan masyarakat sekitar melakukan perawatan. Agar turut andil menjaga lingkungan serta melayani pengunjung dan wisatawan agar betah di sekitar pulau.

Warga membentuk paguyuban untuk menyediakan makanan khas seperti: bongolan, kuniran, bungku, dan srikoyo. Juga menyajikan ikan segar: sembilang, asem-aseman, dan bandeng sapit yang rasanya menggoda lidah pecinta kuliner.

"Karena mata pencaharian warga mencari ikan. Jadi SDM mereka juga perlu ditingkatkan, " ujar suami dari Erna Yuliana ini.

Gatot menekankan program memelihara sungai dan pulau Mengare menuju zero sampah. Ia dan para pecinta lingkungan terus menyadarkan warga desa, menanamkan cinta lingkungan, dan menanam mangrove.

"Saat Ramadan tiba, objek wisata kami liburkan. Karena alam butuh diopeni dan direfresh kembali agar terlihat elok dan cantik, " tandasnya..

Sementara itu, Fuad Nasrullah, seorang wisatawan asal Kabupaten Lamongan mengaku, Exotice Mengare sangat bagus dan layak dijadikan objek wisata alam.

Sebab, tidak banyak orang yang mengetahui akan keberadaan dan keindahan alam di balik pohon mangrove.

Untuk itu, dia sangat yakin ke depan objek wisata ini bisa jaya dan ramai bila ada perhatian dari pemerintah setempat. Pehatian untuk melakukan pembenahan dan kebijakan demi kelangsungan alam dan menyelamatkan peninggalan sejarah.

"Lumayan bagus. Masih alami dan penuh dengan exotisme, " ujarnya.

Masih di tempat yang sama, Aji Saputro wisatawan asal Gresik merasa miris bila masyarakat sekitar tidak mengubah kebiasaan membuang sampah ke sungai.

Hal itu mengakibatkan sampah mengendap dan mencemari lingkungan. Padahal, alam perlu dijaga demi kelangsungan generasi ke depan, selain kbersihan bisa memikat wisatawan dari berbagai kota.

"Masih kotor. Karena banyak sampah berserakan," kata Aji sambil melihat beberapa tumpukan sampah yang sedang menepi ke Pulau Mengare. (*)

Pewarta : Muklas
Editor : Yosi Arbianto
Publisher : Yosi Arbianto
-->
  • Motif Pembunuhan Sadis Bangoan, Kapolres : Masih Kita Dalami

    Kapolres Tulungagung AKBP Tofik Sukendar mengatakan hingga kini pihaknya masih melakukan penyidikan mendalam atas tragedi pembunuhan yang terjadi di desa Bangoan Kecamatan Kedungwaru Kabupaten Tulungagung. Korban pembunuhan diketahui pasangan suami istri

  • Keluarga Korban Shock, Banjir Tangis di Dapur Pasca Aksi Keji Guru

    Keluarga besar Barno (65) dan Musini (60) tampak shock dan berkumpul di dapur rumahnya yang sederhana. Barno dan Musini tiap hari tinggal bersama dengan anak nomer lima bernama Supiah (40) dan cucu lain bernama Asrul (30), Rojikin (19), Sucipto (7). "Sed

  • Dramatis, Penangkapan Pembunuh Pasutri di Bangoan

    Penangkapan terhadap Matal (52 tahun), pelaku pembunuhan terhadap Sumini (70 tahun) dan Barno (70 tahun) berlangsung dramatis, Jum’at (16/11). Pihak Kepolisian bahkan mengerahkan puluhan personelnya untuk menangkap Matal yang masih memegang senjata tajam

  • Gagal, Pembangunan Pasar Sayur Tahap Tak Jadi Dibangun Tahun Ini

    Bagi sebagian para pedagang pasar sayur rupanya harus menunda sejenak keinginannya untuk bisa menempati kios baru. Sebab pada pembangunan tahap dua pasar sayur itu terpaksa tidak bisa dibangun pada akhir tahun.

  • Pemkot Batu Bakal Berikan Angkutan Gratis bagi Wisatawan dan Anak Sekolah

    Setelah Jatim Prak Group me-launching angkutan gratis, tentunya itu menjadi cambuk bagi Pemkot Batu. Sebab, seharusnya yang menyuguhkan angkutan gratis itu adalah Pemkot Batu.

  • Mengembalikan Societiet Concordia, Gedung di Malang yang Juga Jadi Proyek Bung Karno

    Wali Kota Malang Sutiaji memiliki program prestisius di awal masa kepemimpinannya. Yakni mengembangkan Malang City Heritage (MCH) yang akan menjadi ikon wisata di kota dingin ini. Caranya dengan mengembalikan jejak sejarah bangunan-bangunan lama. Salah s

  • Tragis, Pasutri Tewas Ditebas Parang oleh Tetangga

    Pasutri yang diketahui bernama Barno (65) dan Musini (60), warga RT 02 RW 02 Desa Bangoan, Kecamatan Kedungwaru, Kabupaten Tulungagung, bersimbah darah dan mengembuskan nafas terakhirnya setelah ditebas parang oleh tetangganya sendiri, Matal (48).

  • Pembunuh Dua Orang Itu Berprofesi Guru Ngaji, Diduga Ada Masalah Keluarga

    Sebelum ditangkap dan dilumpuhkan, Matal (48) warga RT 02 RW 02 Bangoan yang membabat tetangganya hingga menewaskan dua orang diketahui pernah mengalami gangguan jiwa. Selain itu, Matal yang tiap hari berjualan penthol keliling dan guru ngaji itu diduga

  • Jatim Park Gandeng Angkutan Antar Jemput Gratis

    Wsatawan yang berwisata ke seluruh park di Kawasan Jawa Timur Park (JTP) Group akan dipermudah. Kini, dengan menggandeng angkutan umum di Kota Batu, Jatim Park menyuguhkan angkutan gratis khusus bagi wisatawan yang berwisata di Jatim Park Group.

  • Sebelah Surabaya, UMK di Madura Selisih Rp 2 Juta

    Melalui Surat Keputusan (SK) Nomor 188/665/KPTS/013/2018, Gubernur Jawa Timur Dr Soekarwo secara resmi menetapkan upah minimum kabupaten/kota (UMK) di Jawa Timur untuk 2019 mendatang.

  • Minim Alat Bukti dan Saksi, Pengungkapan Kasus Pembunuhan Pasutri Campurdarat Buntu

    Sudah sepekan lebih dugaan pembunuhan Pasangan suami istri (Pasutri) Didik (56) dan Suprihatin (50) warga Ngingas Campurdarat Tulungagung, belum juga terungkap.

  • Miris, Sumber Air di Kota Batu Hanya Tersisa 52 Sumber

    Dari tahun ke tahun kondisi sumber air di Kota Batu semakin hilang. Hal itu dibuktikan oleh Ikatan Mahasiswa Pecinta Alam (Impala) Universitas Brawijaya Malang saat meneliti tentang sumber air di Kecamatan Bumiaji, Kota Batu.

Redaksi: redaksi[at]batutimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]batutimes.com | marketing[at]batutimes.com
-->