UIN Bergolak, Sambutan Rektor UIN Dianggap Menghina Profesi Petani

Ilustrasi (Majalah Inovasi UIN)
Ilustrasi (Majalah Inovasi UIN)

BATUTIMES.- Sambutan Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim (UIN Miliki Malang) Prof Abdul Haris pada Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) 2018 Senin (13/8/2018) membuat mahasiswa dan dosen bergolak.

Sambutan Prof Haris dianggap menyinggung dan membuat goresan luka para petani maupun buruh.

Dalam kegiatan PBAK tersebut, lontaran kata sambutan Mantan Calon Rektor UIN Surabaya tersebut terkesan mendiskreditkan kaum petani maupun  dan buruh.

Selain itu hal tersebut tentunya juga membuat para mahasiswa yang orangtuanya berprofesi sebagai petani atau buruh merasa tersinggung.

Dalam sambutannya, Rektor terpilih mengantikan Prof Mudjia Rahardjo itu, mengatakan bahwa "Dan saya lihat wajah-wajah Anda adalah wajah-wajah presiden, tidak ada wajah-wajah petani atau buruh. Anda adalah harapan kami, Anda harus siap memimpin, Anda bisa mengalahkan siapa saja di negeri ini," katanya dalam sambutan.

Bahkan kata-katanya di depan para mahasiswa baru itu, diabadikan dalam sebuah video dan diupload di akun Instagram "Malikidoc".

Video tersebut telah ditonton oleh 1000 lebih pengguna Instagram dan memantik kontroversi pengguna Instagram dalam berkomentar.

Seperti akun instagram vathurun99 yang menuliskan komentar yang berpihak  Prof Abdul Haris. " itu tidak merendahkan mas, itu hanya perumpamaan mas dalam sebuah perbedaan masa ketika kita berbicara presiden malah mau dibandingkan dengan raja kan gak nyambung mas. Lagi pula jika memang petani itu mulia, kenapa kita harus marah sesuatu yang sudah mulia. Mau direndahkan seperti apa tetap saja mulia dan yang dimaksud beliau bukan tentang merendahkan tapi hanya sebagai percontohan," tulisnya dalak kolom komentar.

Selain itu, ada lagi akun kimya.id yang mengeritisi sambutan Prof Abdul Haris tersebut. "Waduh apa bedanya kampus dengan masa kolonial, yang menjauhkan masyarakat dari pekerjaan leluhurnya. Ya nggak bisalah. Negara kita agraris juga maritim," tulis Kimya.id

Dan ada lagi akun  Syahrulhidayah91 yang cukup mengecam lontaran kalimat yang terkesan mendiskredikan para petani dan kaum buruh tersebut. 

"Parah, apapun maksudnya, mau memotivasi atau sekadar pidato, seorang profesor harusnya menggunakan kata-kata yang tidak multitafsir seperti ini. Apalagi merendahkan salah satu profesi mulia di negeri ini. Mungkin teman-teman di UIN yang ayahnya seorang petani bisa saja sakit hati. Dan itu wajar. Istighfar," 

Salah satu mahasiswa UIN Malang, Wahyu Agung Prasetyo mengungkapkan sebagai pemimpin kampus, sebaiknya rektor selalu mencermati dan mempertimbangkan apa yang akan dikatakan. 

"Segala ucapan ada dasar dan alasan yang harusnya diungkapkan dan diklarifikasi. Dari pada nanti membuat salah paham, lebih baik Pak Rektor segera mengklarifikasi," jelasnya ketika ditemui di UIN (18/8/2018).

Mahasiswa UIN lainnya, yakni Imam AH juga menungkapkan ketidaksetujuannya dalam sambutan yang dilontarkan oleh rektor. Ia menilai kalimat yang dilontarkan rektor tidaklah tepat.

"Rektor harusnya memilih diksi yang lebih tepat. Tak salah menyemangati maba, tapi kampus sebagai ruang akademik seharusnya juga jadi ruang pendidikan karakter. Termasuk salah satunya menghormati petani, bukan hanya presiden," jelasnya (18/8/2018).

Selain permasalahan lontaran kalimat yang terkesan merendahkan profesi petani dan buruh, dalam video, Rektor juga sempat menyingung salah satu Cawapres yakni KH Ma'ruf Amin yang dikatakannya merupakan seorang Dosen UIN serta gelar Profesornya juga berasal dari UIN.

Hal itu juga mendapat kritikan dari Abdul Fauzi, seorang mahasiswa baru dari UIN Maliki yang menuliskan sebuah opini yang termuat pada gubuktulis.com dengan judul Surat Cinta Untuk Rektor.

"Pak rektor yang terhormat, mengapa tiba- tiba bapak mengagungkan seorang Presiden? Apakah gara-gara Pak Ma’ruf Amin yang jadi Cawapres itu? Di mana Bapak sebut juga sebagai dosen UIN dan gelar profesornya dari UIN juga.

Ingat Pak, PBAK bukan gebyar kampanye politik praktis. UIN itu, setahu kami adalah tempat belajar, mencari ilmu atau sekedar mencari ijazah. Bapak tidak perlu repot-repot kampanye, atau mengharapkan semua mahasiswanya menjadi presiden," tulisnya dalam sebuah opini.

Terkait dua hal tersebut, ketika coba untuk dikonfirmasi langsung dengan mendatangi UIN Maliki Malang untuk bertemu dengan Prof Abdul Haris, pihaknya sedang tidak berada d itempat.

Namun ketika dikonfirmasi melalui sambungan telepon, lagi-lagi pihaknya tidak menjawab dan terkesan enggan menanggapi hal tersebut.

Bahkan, sampai berita ini diturunkan, ketika coba dikonfirmasi melalui Whatsapp, sekitar pukul 12.40 wib, sang Rektor UIN Maliki juga tak merespon sedikitpun.

Pewarta : Anggara Sudiongko
Editor : Heryanto
Publisher : debyawan erlansyah
-->
Redaksi: redaksi[at]batutimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]batutimes.com | marketing[at]batutimes.com
-->