Penjualan Sepi, PKL Alun-Alun Keluhkan Senam Ayoyo

Tempat PKL berjualan ditempati senam di jalan Ahmad Yani dan sebagian Jalan Suroyo (Agus Salam/Jatim TIMES)
Tempat PKL berjualan ditempati senam di jalan Ahmad Yani dan sebagian Jalan Suroyo (Agus Salam/Jatim TIMES)

BATUTIMES - Pelaksanaan Senam Ayo-ayo yang digelar di Jalan Ahmad Yani dan Jalan Suyoso, Minggu t16/9) pagi sekitar pukul 6.30 dikeluhkan Pedadang kaki Lima (PKL). Sebab, kegiatan yang diprakarsai sanggar senam tersebut memakan tempat berjualan PKL yang berjualan di pasar Mingggu sekeliling alun-alun.

Sejumlah PKL terutama yang berjualan di depan Pendapa Bupati dan depan Kantor Partai NasDem mengaku terganggu. Pedagang yang berjualan berbagai makanan dan minuman serta mainan tersebut menyebut, penghasilannya berkurang. Sebab, mereka bisa berjualan setelah acara senam dan pembagian hadiah selesai.

Seperti penjual pentol dan Soto ayam, yang mengaku menunggu sampai acara bubar, karena tempatnya dipakai senam. Mereka terpaksa berjualan di tengah jalan sambil menunggu lokasi jualannya steril dari acara. "Ya, pasti terganggu dan penghasilan kami berkurang. Seharusnya saya berjualan jam 05.00, baru bisa berjualan setelah jam 08.00 lebih. Waktu berjualan juga lebih sedikit. Karena kemakan acara senam," aku penjual soto dan diamini penjual pentol.

PKL yang enggan namanya disebutkan tersebut mengaku tidak tahu, kalau tempat berjalannya dipakai untuk senam. Karena itu, mereka dari rumah tinggalnya berangkat pagi-pagi sekali seperti biasanya. Karena tidak kebagian tempat, keduanya dan pedagang lainnya berjualan di tengah jalan, di lokasi yang tidak dipakai senam pagi.

"Gerobak dorong, saya taruh di tengah jalan. Karena di pinggir jalan ditempati pedagang lainnya. Memang tempat mereka disitu. Saya gak bisa buka jualan. Kalau yang lain ada yang buka jualannya, ada yang tidak," pungkasnya.

Terpisah, Alifaturohma, ketua Paguyuban PKL (P-PKL) mengaku tidak tahu kalau sebagian tempat berjualan anggotanya dipakai senam mengingat tidak ada pemberitahuan dan koordinasi sebelumnya. Ia menyayangkan hal seperti itu terjadi. "Enggak ada koordinasi sama sekali. Makanya saya tidak tahu. Ya seharusnya kami diberitahu sehari sebelumnya," ujarnya.

Sebab, jika ada pemberitahuan sebelumnya pihaknya bisa mengatur tempat PKL. Sehingga PKL yang tempatnya dipakai senam, bisa berjualan seperti biasanya. Ia akan mencarikan tempat berjualan di sekitar alun-alun. Jika seperti itu caranya, maka anggota yang dirugikan. "Jangan seenaknya. PKL itu sudah lama bejualan di situ. Mereka jualan disana tidak liar. Pemkot yang mengatur," tambahnya.

Seharusnya, pihak penyelenggara senam, jika tidak ada koordinasi, bisa senam di dalam alun-alun. Atau di lokasi Car Free Day yang kosong dan memang khusus senam atau olah raga.

Alif kemudian menceritakan pengalamannya tentang acara yang diselenggarakan di alun-alun, tetapi tidak mengganggu PKL jualan. "Hanya ini saja yang tidak koordinasi. Sebelumnya pihak penyelenggara, berkoordinasi dengan kami," lanjutnya.

Ketua PPKL dua periode ini kemudian menyebut acara yang digelar sebuah partai yang bersamaan dengan PKL berjualan, yakni setiap minggu. Partai yang dimaksud menghubungi paguyuban dan diajak bermusyawarah. Tidak hanya PKL, DKUPP, (Dinas Koperasi Uasha Kecil Perdagangan dan Perindustrian) Polresta, juga diajak bicara oleh penyelenggara. "Akhirnya tidak ada yang dirugikan. Meski acaranya sangat ramai. PKL tetap bisa berjualan," katanya.

Sementara itu, Neni, instruktur senam dari sanggar senam berterus terang tidak berkoordinasi dengan P-PKL, ataupun Pemkot. Mengingat acara yang digelarnya permintaan masyarakat. Pihaknya hanya berkoordinasi dengan Polresta dan polres yang dipimpin AKBP Alfian Nurrizal, juga salah satu peserta yang ikut senam. "Enggak. Kami gak koordinasi dengan siapapun, karena acara ini kemauan masyarakat Kota," katanya saat dikonfirmasi, usai acara senam.

Perempuan yang memandu senam tersebut, juga memiliki hak untuk menempati jalan Ahmad Yani dan ujung utara jalan Suroyo, sebab sama sama warga kota sama dengan PKL dan warga yang lainnya. Jadi menurutnya, tidak perlu berkoordinasi atau memberitahu. Menurutnya, PKL tidak rugi, karena masih berjualan dan dipastikan pembelinya semakin banyak, karena ditambah peserta senam yang lumayan banyak.

"Menurut saya PKL untung, Karena peserta senam banyak. Dan lagi, kami tidak setiap minggu memakai tempat ini. Kan di dalam alun-alun dipakai senam juga," pungkasnya saat ditanya, mengapa tidak senam di dalam alun-alun saja. 

 

Pewarta : Agus Salam
Editor :
Publisher :
-->

    Tidak ada artikel terkait

Redaksi: redaksi[at]batutimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]batutimes.com | marketing[at]batutimes.com
-->