Wow, Ada Panti Pijat Plus-Plus di Belakang Polsek Gubeng (3)

Miliki Izin Operasional, Therapis Dipajang di 'Etalase' Sebelum Layani Pelanggan

Bu Mamik saat dirilis oleh polisi
Bu Mamik saat dirilis oleh polisi

BATUTIMES - Sebagai bos, atau pemilik panti pijat, Bu Mamik bukanlah orang yang baru di dunia perlendiran. Jauh, sebelum dia menjadi bos rupanya dulu adalah seorang therapis biasa atau bekerja ikut orang lain. Setelah itu dia baru buka sendiri pada tahun 1996.

“Saya buka mulai tahun 1996, satu jam Rp 100 ribu pijat. Pelanggannya dari mana saya tidak hafal,” ujar Mamik saat memberikan keterangan ketika Press Release.

Di Ruko Barata Jaya, Panjat Bu Mamik memiliki ruang dua tingkat. Di lantai pertama merupakan tempat para tamu untuk memilih therapis. Semua therapis yang berkerja disuruh duduk di sofa kemudian ada etalase kaca sebagai pemisah dengan tamu.

Setelah memilih salah satu therapis, tamu akan diajak ke lantai dua. Di sanalah tamu akan dilayani oleh therapis. Di dalam ruangan yang hanya disekat menggunakan triplek serta ditutupi selambu kain.

Sebut saja Risa salah satu therapis di sana mengatakan dalam melayani tamu tidak pernah basa-basi. Tamu oleh dia akan diminta untuk melepas semua pakaian. “Pijatnya cuma lima belas menit saja,” tuturnya.

Setelah itu jika tamu ingin lanjut dia akan memberikan banyak tawaran. Mulai pelayanan hand job, blow job hingga full service. “Kalau ndak mau diapa-apain ya sudah diam saja sampai waktunya habis,” kata dia.

Saat hendak memijat tersebut Risa sudah membawa banyak perlengkapan untuk berhubungan badan. Mulai tisu kering, tisu basah, kondom hingga gel pelicin. “Harus pakai kondom. Kalau gak ya sudah. Gak mau saya,” lanjut perempuan berusia 25 tahun ini.

Kekhawatiran Risa tersebut cukup beralasan. Sebab, dia tidak tahu tamu yang dia layani memiliki penyakit atau tidak. “Terutama HIV AIDS. Nek kena bisa mati aku,” ujarnya lantas tertawa kembali.

Meski, disiplin dalam melayani tamu, Risa mengaku tetap rutin untuk periksa kesehatan. Minimal satu bulan sekali dia periksa ke dokter untuk mengetahui kondisi tubuhnya.

Sementara itu Kanit PPA Satreskrim Polrestabes Surabaya AKP Ruth Yeni mengatakan Panti Pijat Bu Mamik sebenarnya sudah legal secara syarat. Yaitu, dengan memiliki Tanda Daftar Usaha Pariwisata (TDUP) dan Izin Mendirikan Bangunan (IMB). “Namun, pengelola secara sembunyi-sembunyi membuka pijat plus layanan seksual dengan dalih kebugaran,” tegasnya.

Bu Mamik ini kata Ruth cukup berpengalaman mengelola panti pijat plus-plus. Mulai berpindah tempat hingga berganti-ganti therapis atau anak buah. “Awalnya dia ikut orang bukan mengelola sendiri,” imbuh perwira dengan pangkat tiga balok ini.

Pewarta : M. Bahrul Marzuki
Editor : Sri Kurnia Mahiruni
Publisher :
Sumber : Surabaya TIMES
-->
Redaksi: redaksi[at]batutimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]batutimes.com | marketing[at]batutimes.com
-->