Pertempuran Waterloo, Kiriman Listrik Sumbawa Taklukkan Napoleon

Pertempuran Waterloo. Pasukan Napoleon Bonaparte dikalahkan oleh kiriman listrik dari Sumbawa. (wikimedia)
Pertempuran Waterloo. Pasukan Napoleon Bonaparte dikalahkan oleh kiriman listrik dari Sumbawa. (wikimedia)

BATUTIMES - Pertempuran Waterloo, Belgia, pada 18 Juni 1815. Pertempuran ini yang mengakhiri kejayaan Napoleon Bonaparte dalam sejarah Eropa.

Dalam pertempuran tersebut, Napoleon yang memimpin pasukan Prancis melawan Koalisi Ketujuh yang merupakan persekutuan militer Inggris dan tentara Prusia. Di pertempuran ini, 15.000 tentara Inggris dan 7.000 tentara Prusia tewas atau terluka. Dari pihak Napoleon, pasukan yang mengalami kematian lebih besar, sekitar 26.000 orang. Selain itu, 6.000-7.000 prajurit ditawan dan 15.000 lainnya melakukan desersi.

Kekalahan pasukan Prancis di bawah kepemimpinan Napoleon ternyata, menurut beberapa penelitian, bukan hanya dikarenakan perlawanan Inggris dan Prusia saja. Tapi faktor yang sangat mendominasi kekalahan pasukan Bonaparte adalah dikarenakan adanya ‘kiriman listrik’ dari Sumbawa, Indonesia.

Dalam buku Panggung Sejarah Nusantara: Silang Bahari karya AB Lapian (2011:81), ditulis mengenai kekalahan pasukan Napoleon dalam Perang Waterloo. “Pasukan Prancis yang membawa kereta dengan persenjataan yang berat-berat dihalangi oleh lapisan-lapisan lumpur yang tebal. Dengan demikian, bala bantuan yang diharapkan Napoleon terlambat tiba. Dan akibatnya sangat fatal baginya: kekalahan di Waterloo tanggal 18 Juni 1815. Sejarah telah membuktikan bahwa peristiwa Waterloo ini telah mengubah peta dunia,” beber Lapian.

Lantas apa hubungannya dengan ‘kiriman listrik’ dari Sumbawa yang membuat pasukan Napoleon kalah total tersebut. Tercatat, bahwa pada saat akan dimulainya pertempuran Waterloo, pasukan Napoleon yang merupakan kaisar Prancis saat itu terjebak dalam hujan yang turun terus-menerus di Waterloo. Sebuah kota kecil di sebelah selatan Brussels, ibu kota Belgia saat ini.

Kondisi alam tersebut membuat pasukan Napoleon yang selalu membawa meriam-meriam besi dengan berat berton-ton nyaris tidak bisa bergerak. Tenaga pasukan pun akhirnya terkuras untuk mendorong meriam-meriam besi tersebut di jalanan yang sangat becek dan licin. Bahkan pasukan tambahan yang seyogianya akan membantu juga akhirnya tidak bisa datang tepat waktu dikarenakan kondisi alam yang sangat tidak bersahabat.

Kondisi alam tersebut ternyata, menurut penelitian Dr Matthew Genge dari Imperial College London, dikarenakan peristiwa alam yang jaraknya ribuan kilometer dari Waterloo. Yakni terjadinya erupsi Gunung Tambora di Pulau Sumbawa.

Erupsi Gunung Tambora inilah yang membuat kondisi alam di Waterloo, khususnya, dan di Eropa secara menyeluruh, terganggu. Abu vulkanik letusan Tambora yang dialiri listrik ternyata mampu memendekkan arus listrik ionosfer, yaitu lapisan atas atmosfer yang bertanggung jawab dalam pembentukan awan. Dari kiriman listrik Tambora ini, terjadi pembentukan awan yang diikuti hujan lebat.

“Letusan Tambora dan kekalahan tentara Napolen Bonaparte ada kaitannya. Letusan tersebut telah mengempaskan abu ke atmosfer dengan ketinggian bisa mencapai 100 kilometer di atas tanah,” tulis Genge dalam jurnal penelitiannya yang dipublikasikan dalam jurnal Geologi. 22 Agustus 2018.

Hasil penelitian tersebut juga dibuktikan dengan berbagai rangkaian percobaan yang dilakukannya. Dari hasil tersebut dibuktikan, kekuatan elektrostatik dapat mengangkat abu jauh lebih tinggi bila dibandingkan dengan daya apung abu itu sendiri. Ia menciptakan sebuah model untuk menghitung seberapa jauh abu vulkanik dengan muatan listrik bisa melesat ke langit dan menemukan bahwa partikel yang lebih kecil bisa mencapai ionosfer selama erupsi besar.

"Batu dan abu vulkanik dapat memiliki muatan listrik negatif," ujarnya seperti dikutip dalam Deutsche Welle (25/8/2018) kemarin. Genge pun melanjutkan, “Vigo Hugo dalam novel Les Miserables, pernah mengatakan jika langit  dengan awan yang tak biasa cukup untuk membawa kiamat sebuah dunia. Kini kita sudah selangkah lebih dekat untuk memahami bagian Tambora melalui pertempuran yang terjadi dibelahan bumi lain," pungkasnya. (*)

Pewarta : Dede Nana
Editor : Yunan Helmy
Publisher :
Sumber : Malang TIMES
-->
Redaksi: redaksi[at]batutimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]batutimes.com | marketing[at]batutimes.com
-->