Fertigasi Tetes Permudah Petani Masalah Penyiraman, Tapi Masih Jarang Diterapkan di Kota Batu

Fertigasi tetes yang mulai diaplikasikan di green house, Desa Pesanggrahan, Kecamatan Batu. (Foto: Irsya Richa/BatuTIMES)
Fertigasi tetes yang mulai diaplikasikan di green house, Desa Pesanggrahan, Kecamatan Batu. (Foto: Irsya Richa/BatuTIMES)

BATUTIMES - Beragam cara untuk membuat pertanian dengan sistem dan teknologi lebih memudahkan petani terus dikembangkan masyarakat. Meskipun mempermudah, sayangnya masih jarang petani yang menerapkan padahal keuntungannya pun banyak dibanding kerugiannya. 

Seperti pada sistem fertigasi singkatan dari fertilizer dan irigation yakni sistem pengairan tanaman dan pemupukan yang diberikan sekaligus melalui irigasi tetes. Sedangkan fertigasi ini salah satu metode penanaman dalam sistem hidroponik, dimana larutan nutrisi diberikan melalui sistem irigasi.

Sistem fertigasi lebih dikenal dan identik dengan hidroponik, padahal fertigasi sebenarnya juga bisa diaplikasikan pada pertanian konvensional. Sistem hidroponik fertigasi diaplikasikan pada tanaman sayuran dan buahan.

“Misalnya seperti cabai, paprika, tomat, stroberi, mentimun, melon, semangka dan lain sebagainya. Pada intinya tanaman yang sifatnya itu tinggi,” ungkap Muhammad Anwar, Founder Batu Hidroponik.

Sayangnya meskipun sistem pertanian ini memudahkan petani di sawah maupun lahan sempit, masih sangat jarang digunakan masyarakat di Kota Batu. 

Bahan untuk menggunakan sistem ini seperti pipa, slang, dripper, timer dan pompa. Dengan perakitan bahan- bahan itu, tanaman akan secara otomatis tersiram, tapi sifatnya menetes.

Misalnya pada tanaman polibag buah stroberi setiap kurun waktu 6 jam secara otomatis pipa dan slang yang berisikan air dan nutrisi itu akan menetes. Selama jarak 6 jam akan menetes otomatis selama 6 jam. 

“Tetapi tergantung juga tanaman yang ditanaman saat tanaman umurnya masih pendek tentunya jarak tetesnya lebih cepat,” katanya, Jumat (19/10/2018). 

Dengan demikian petani tidak perlu repot-repot lagi untuk sibuk menyiram saat musim kemarau. Seperti halnya yang sudah diaplikasikan di green house Desa Pesanggarahan. Di sana teknologi ini sudah diterapkan.

“Dan hasilnya pun juga memuaskan menggunakan sistem ini,” ujar warga Desa Pesanggarah, Kecamatan Batu ini.

Ia pun berharap kedepannya petani di Kota Batu mulai menggunakan sistem ini. Melihat menggunakan sistem sangat meguntungkan dari segi waktu.

Pewarta : Irsya Richa
Editor : Sri Kurnia Mahiruni
Publisher :
Sumber : Blitar TIMES
-->
Redaksi: redaksi[at]batutimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]batutimes.com | marketing[at]batutimes.com
-->