Curhat Jokowi: Saya Lebih Senang Bangun Infrastruktur Desa Dibanding Jalan Tol

Presiden Jokowi saat meninggalkan ruang acara di Surabaya. (Nana)
Presiden Jokowi saat meninggalkan ruang acara di Surabaya. (Nana)

BATUTIMES - Nawacita ketiga pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) membangun dari pinggiran atau perdesaan mulai terlihat hasilnya. Yakni dengan berbagai hasil pembangunan yang dilakukan warga desa sekitar melalui anggaran dana desa (DD).

Berbagai desa di Indonesia, khususnya di Jawa Timur (Jatim) yang memiliki 7.724 desa, didorong untuk mewujudkan Nawacita ketiga tersebut dengan stimulus dana desa sejak tahun 2015 lalu.
Berbagai hasil pembangunan infrastruktur pun bermunculan. Dari jalan, irigasi, embung, pembangunan gedung, tembok penahan tanah, jembatan serta lainnya. 

Hasil tersebut diapresiasi oleh Presiden Jokowi. Bahkan, Jokowi memuji para pendamping desa atas kerja kerasnya mengawal dana desa yang jumlahnya mencapai puluhan triliun.

Apresiasi Jokowi tersebut didasarkan pada harapan besarnya membangun Indonesia dari pedesaan. "Sebenarnya saya paling senang kalau melihat pembangunan di desa-desa dibandingkan dengan pembangunan jalan tol, bandara internasional dan lainnya," kata Jokowi.

Calon presiden nomor 02 tersebut melanjutkan, dengan  pembangunan di pedesaan yang kini begitu luar biasa bisa memberikan harapan besar bagi Indonesia. "Karena itu adalah fondasi, dasar dari pembangunan. Desa kuat, maka negara pun kuat. Maka sejak 2015 sampai sekarang, saya komitmen terus membangun desa," tegas Jokowi.

Komitmen tersebut yang membuat Jokowi terus mengawal adanya peningkatan anggaran dana desa bagi 74 ribu desa yang ada di Indonesia. Tahun 2019 ini, dana desa disiapkan senilai Rp 70 triliun dalam mempercepat berbagai pembangunan fisik maupun kegiatan pemberdayaan. Konsentrasinya pembangunan yang  dikonsep untuk mulai menguatkan kegiatan pemberdayaan masyarakat perdesaan. 

Jokowi mengatakan,  pembangunan fisik di pedesaan telah cukup luat biasa hasilnya dalam mendongkrak peningkatan ekonomi masyarakat. Bahkan, dari hasil berbagai survei, kepuasaan masyarakat pedesaan untuk persoalan tersebut telah mencapai 85 persen.

"Ini luar biasa sekali. Sejarah pertama di Indonesia dalam membangun desa. Kini kita geser pola pembangunannya ke arah pemberdayaan ekonomi serta mengangkat potensi-potensi yang ada di pedesaan. Tidak hanya fisik saja," ujarnya.

Harapannya, antara pembangunan fisik dengan pemberdayaan masyarakat bisa berjalan beriringan dan melahirkan kekuatan ekonomi besar di seluruh desa yang ada.

 

Pewarta : Dede Nana
Editor : Yunan Helmy
Publisher :
-->
Redaksi: redaksi[at]batutimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]batutimes.com | marketing[at]batutimes.com
-->