Limbah Plastik Jadi Untaian Tasbih Pengantar Zikir di Malang

Produksi tasbih manik-manik dari limbah plastik di Malang terkendala tenaga kerja dan bahan baku. (Foto: Nurlayla Ratri/MalangTIMES)
Produksi tasbih manik-manik dari limbah plastik di Malang terkendala tenaga kerja dan bahan baku. (Foto: Nurlayla Ratri/MalangTIMES)

BATUTIMES - Ramadan 1440 H memasuki minggu terakhir saat tangan paro baya milik Sentot melepas butiran manik-manik dari cetakannya. Warga Kelurahan Bunulrejo, Kecamatan Blimbing, Kota Malang, itu memisahkan butiran manik-manik berdasarkan warnanya sebelum dirangkai menjadi tasbih pengantar zikir dan doa.

Setidaknya enam tahun terakhir, Sentot dan keluarganya menjadi perajin tasbih manik-manik. Mulai dari menyiapkan bahan baku, mencetak, hingga merangkai menjadi tasbih dilakukan secara manual. "Alhamdulillah, setiap bulan puasa dan musim haji, permintaan pasti naik dibandingkan hari-hari biasa. Karena kan manik-manik daur ulang ini memang lebih murah," ujarnya.
 

Memang sekilas tak terlihat bahwa bahan baku yang dipakai adalah plastik bekas. Sebab, saat dicetak, Sentot memberikan pewarna khusus. Biasanya campuran dari dua warna yakni putih dengan hijau, biru, hitam, kuning, dan lain-lain. "Bahan bakunya dari limbah toples plastik yang biasa dibuat kue lebaran itu. Kan teksturnya kaku, dilelehkan dulu lalu diberi pewarna, baru dicetak satu per satu," sebutnya.
 

Proses pencetakannya pun menggunakan alat-alat sederhana, yakni sebuah pemanas dengan desain khusus dan juga batangan jeruji besi seukuran tusuk sate. Butuh keterampilan dan ketelatenan ketika satu tangan Sentot memegang plastik dan satunya memegang jeruji besi. 

Jeruji itu lantas diputar searah jarum jam untuk menangkap lelehan plastik. Jeruji itu juga yang menjadi sekat sehingga tercipta lubang kecil sebagai tempat terpasangnya benang. 

Setelah dicetak, manik-manik setengah jadi itu lantas dikeringkan agar mengeras. Baru setelah itu dilepas dari cetakan dan dirangkai. Untuk mempercantik tampilan, Sentot menambahkan manik-manik pabrikan warna emas ukuran kecil dan juga benang warna-warni. "Untuk per lusin (12 buah) tasbihnya mulai harga Rp 12-18 ribu, bergantung warna dan ukuran," terangnya. 
 

Dalam sehari, Sentot bisa memproduksi ratusan untai tasbih siap jual. Tasbih-tasbih itu lantas dijual ke pengepul untuk dipasarkan. Biasanya, tasbih buatan Sentot digunakan untuk suvenir. "Saat ini kendalanya tenaga kerja, kan butuh yang telaten. Dulu pernah saya adakan pelatihan untuk ibu-ibu dan janda di sekitar sini, alat dan bahan dari saya. Tapi nggak jalan," sesalnya. 
 

Selain itu, masalah bahan baku juga sesekali menjadi kendala produksi. Saat permintaan naik, otomatis kebutuhan toples-toples bekas juga meningkat. Biasanya, dia bekerja sama dengan tukang rosok untuk menyuplai bahan baku. "Tapi kalau pas ramai pesanan, kadang ya saya mengumpulkan sendiri. Setelah dibersihkan, baru diolah. Meskipun dari barang bekas, tetapi kami tetap menjaga kualitas," pungkasnya. 

 

Pewarta : Nurlayla Ratri
Editor : Yunan Helmy
Publisher :
-->
Redaksi: redaksi[at]batutimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]batutimes.com | marketing[at]batutimes.com
-->