Mengenal Ragil Kuning, Sosok Perempuan yang jadi Lambang Kesetiaan dan Pengabdian

Tarian yang mengangkat sosok Dewi Ragil Kuning yang dibawakan sanggar Kampung Budaya Polowijen, Kota Malang. (Foto: Dokumen MalangTIMES)
Tarian yang mengangkat sosok Dewi Ragil Kuning yang dibawakan sanggar Kampung Budaya Polowijen, Kota Malang. (Foto: Dokumen MalangTIMES)

BATUTIMES - Sosok Dewi Ragil Kuning mungkin masih belum familiar dibandingkan tokoh-tokoh utama dalam rangkaian kisah Panji. 

Namun, adik dari Panji Asmorobangun yang digambarkan cantik dan lembut itu merupakan simbol seorang perempuan yang setia dan penuh pengabdian.

Kecantikan Dewi Ragil Kuning dibawakan dalam sebuah tarian oleh sanggar Kampung Budaya Polowijen. 

Lima penari tampil gemulai membawakan tarian Ragil Kuning dalam pra acara Festival Panji Nusantara 2019, Rabu (10/7/2019) malam di Taman Krida Budaya Jawa Timur (TKBJ) di Kota Malang. 

Selendang hijau yang dikenakan, melambai lembut layaknya daun kelapa yang dibuai angin. 

Penggagas Kampung Budaya Polowijen, Isa Wahyudi atau yang akrab disapa Ki Demang mengungkapkan, Dewi Ragil Kuning atau Dewi Onengan adalah putri Raja Jenggala Manik yang bernama Prabu Amiluhur. 

Ragil Kuning adalah adik dari Panji Asmorobangun yang merupakan istri Raden Gunung Sari, saudara laki-laki dari Dewi Sekartaji putera mahkota dari Raja Panjalu Daha Kediri, Prabu Amijoyo. 

Sosok topeng Dewi Ragil Kuning digambarkan dengan wajahnya yang kuning dengan ekspresi lembut dan ukiran bunga pada hiasan mahkota di kepalanya. 

Dewi Ragil kuning merupakan lambang dari kebaikan, sumber kemakmuran dan kesetiaan manusia. 

"Dewi Ragil Kuning terkenal cantik. Banyak raja-raja yang ingin melamarnya. Namun, cinta dan kesetiaannya tetap kepada Raden Gunung Sari," ungkap Ki Demang.

Dikisahkan dalam lakon tersebut, sekar Kedaton kerajaan Jenggala hilang dari istana. 

Semua kerabat kerajaan kebingungan mencari sang putri. 

Kesempatan ini digunakan oleh Prabu Klono untuk ikut mencari Dewi Ragil Kuning dan kelak akan dijadikan istri. 

Di tengah hutan, Dewi Ragil Kuning yang sendirian bertemu dengan Prabu Klono, dan Prabu Klono memaksanya untuk diboyong ke Keraton Prabu Klono. 

Dalam pelariannya, Dewi Ragil Kuning bertemu dengan Raden Gunung Sari kekasihnya.

Terjadilah peperangan antara Klono dan Gunung Sari. 

"Prabu Klono kalah dan pulang ke negaranya. kemudian Dewi Ragil Kuning dibawa pulang kembali ke p keraton Jenggala," tuturnya. 

Ki Demang menyebut bahwa topeng Dewi Ragil Kuning merupakan salah satu kekhasan Kampung Budaya Polowijen. 

Pasalnya, di kampung tersebut terdapat makam sosok Buyut Reni, Empu Topeng Malang. 

"Satu-satunya topeng Buyut Reni, Empu Topeng Malang yang masih tersisa diangkat kembali sebagai sebuah cerita," pungkasnya. 

Acara dengan tema Transformasi Budaya Panji ini merupakan kerjasama Dinas Kebudayaan dan Provinsi Jatim, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Republik Indonesia dan pemerintah Kota/Kabupaten yang menjadi tuan rumah acara tersebut didukung oleh Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Yogyakarta dan Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Trowulan, Mojokerto. 

Pada tanggal 10 dan 11 Juli, secara bersamaan acara berlangsung di tiga kota sekaligus, yaitu Kabupaten Blitar, Kabupaten Kediri dan Kabupaten Tulungagung. 

Sedangkan pada tanggal 12 Juli berlangsung acara dalam waktu yang sama di Kota Malang dan Kabupaten Blitar.  

Khusus di Kota Malang, Pemerintah Kota Malang juga menyelenggarakan beberapa lomba yaitu: Lomba Mewarna, Lomba Menggambar, Lomba VLog, Workshop Komik, dan Sinau Sejarah dengan tema Panji di Museum Mpu Purwa. 

Pewarta : Nurlayla Ratri
Editor :
Publisher :
Sumber : Malang TIMES
-->

    Tidak ada artikel terkait

Redaksi: redaksi[at]batutimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]batutimes.com | marketing[at]batutimes.com
-->