Ilustrasi ayam mengerami telur. (Foto: istimewa)
Ilustrasi ayam mengerami telur. (Foto: istimewa)

Allah dalam Quran Surat An-Nur ayat 41 berfirman: "Tidaklah engkau (Muhammad) tahu bahwa kepada Allah-lah bertasbih apa yang ada di langit dan di bumi, dan juga burung yang mengembangkan sayapnya. Masing-masing sungguh telah mengetahui (cara) salat dan tasbihnya. Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan."

Akademisi sekaligus dokter hewan Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim  (UIN Maliki) Malang Dr drh Bayyinatul Muchtaromah MSi menjelaskan, semua hal yang ada di alam semesta beribadah kepada Allah sesuai dengan keadaan mereka masing-masing. "Jadi cara ibadahnya tidak mesti sama dengan kita," ucap pengajar program studi magister biologi tersebut.

Bayyinatul menjadi salah satu narasumber dalam diskusi tematik Alquran dan Sains pada acara Syiar Ramadan 1441 H UIN Malang belum lama ini. Acara digelar di hall rektorat UIN Malang.

Syiar Ramadhan 1441 H UIN Malang.

Jumlah peserta yang datang terbatas dan tetap memperhatikan physical distancing. Rektor UIN Malang Prof Dr Abdul Haris MAg bertindak langsung sebagai host.

Kembali pada semua ciptaan Allah di bumi maupun di langit yang beribadah. Sama halnya umat muslim yang diwajibkan puasa, mereka pun juga melaksanakan ibadah puasa. Bayyinatul memberi contoh puasa pada  ayam.

"Ayam pada masa mengerami, dia berpuasa. Dia tidak makan dan tidak minum. Ini ditujukan agar suhu badannya meningkat sehingga dia mampu mengerami telurnya. Kemudian telurnya bisa menetas dan sehat," paparnya.

"Jadi, setiap kali hewan berpuasa, itu akan ada sesuatu hasil yang kemudian akan meningkatkan kualitas hidupnya," sambung dia.

Namun, tetap saja manusialah diberi keistimewaan oleh Allah SWT, yakni akal. Sehingga, manusia bisa mampu mengidentifikasi dan menyebutkan benda-benda di alam semesta ini. Suatu kelebihan yang tidak dimiliki oleh malaikat sekalipun.

Akademisi UIN Malang, Dr drh Bayyinatul Muchtaromah MSi.

"Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para malaikat lalu berfirman: "Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang benar orang-orang yang benar!" (QS Al-Baqarah ayat 31)

Tak seperti malaikat yang seperti robot, manusia bisa mengidentifikasi dan mengklasifikasi sesuatu. Istilahnya dalam biologi adalah taksonomi.

"Kalau di dalam bidang makhluk hidup itu mencandra atau mengidentifikasi sesuatu berdasarkan morfologinya atau sifat-sifat tertentu atau karakteristik tertentu yang kemudian saat ini dikenal sebagai taksonomi," jelas Bayyinatul.

Soal taksonomi,  ada "bapak taksonomi modern" bernama Carolus Linnaeus. Linnaeus dikenal sebagai penemu sistem klasifikasi organisme atau taksonomi sebagai cabang ilmu biologi. Namun, sebelum Linnaeus, sesungguhnya Nabi Adam-lah bapak taksonomi pertama.

"Sesungguhnya Nabi Adam itu bapak taksonomi yang pertama karena dia bisa mengidentifikasi nama, fungsi, dan seterusnya sehingga kegunaannya juga bisa diungkap," pungkas perempuan berjilbab tersebut.