Diskusi tematik bertema "Al-Qur'an dan Ekonomi" dalam Syiar Ramadhan 1441 H UIN Malang. (Foto: istimewa)
Diskusi tematik bertema "Al-Qur'an dan Ekonomi" dalam Syiar Ramadhan 1441 H UIN Malang. (Foto: istimewa)

Dalam memenuhi kebutuhan hidup, manusia harus melakukan aktivitas atau kegiatan ekonomi yang mencakup kegiatan produksi, distribusi, dan konsumsi. 

Hal ini disampaikan oleh Dosen Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang (UIN Malang) Dr H Wahidmurni MPd.

"Ekonomi itu adalah bagian dari ilmu sosial yang mengkaji tentang bagaimana manusia/masyarakat dalam rangka untuk memenuhi kehidupan hidupnya," jelas Wahid.

Nah, di dalam Alquran banyak sekali dibahas masalah ekonomi. Bahkan sudah terdapat rambu-rambu dalam berekonomi itu sudah dituliskan di dalam kitab suci umat Islam tersebut.

"Dan kita tidak hanya memenuhi kehidupan jasmani, kebutuhan rohani juga harus dipenuhi," ucap Dosen Fakultas Ekonomi UIN Malang, Dr Hj Umrotul Hasanah MSi.

Rambu-rambu dalam berekonomi, kata Umroh, pertama adalah kita harus mencari rezeki yang halal kemudian menyalurkannya secara halal. Kedua, kita harus menghindari terjadinya "maghrib".

"Maghrib itu singkatan dari Maisir, Gharar, Haram dan Riba," jelasnya.

Ketiga, lanjut Umroh, kita juga harus menghindari adanya kezaliman di dalam berekonomi.

"Alquran sudah menjelaskan bahwa kalau dalam berekonomi kita harus menghindari itu sehingga di dalam kezaliman ini tidak akan berdampak negatif pada umat," tuturnya.

Keempat adalah kita tidak boleh berlebih-lebihan. Bukan berarti tidak boleh kaya. Namun, tidak boleh berlebihan di sini adalah saat memenuhi kebutuhan dalam konsumsi.

"Kelima, kita harus menunaikan sosial kita, yaitu dengan zakat, infaq, atau shodaqoh yang sudah ada di dalam Alquran Surat At-Taubah ayat 60," katanya.

Quran Surat At-Taubah ayat 60:

"Sesungguhnya zakat-zakat yang wajib itu harus diberikan kepada orang-orang fakir, yaitu orang-orang yang membutuhkan (bantuan), yang sebenarnya mereka mempunyai harta dari profesi atau pekerjaan mereka tetapi tidak bisa mencukupi kebutuhan mereka namun kondisi mereka itu tidak kelihatan; kepada orang-orang miskin yang nyaris tidak mempunyai apa-apa dan keadaan mereka bisa diketahui orang lain dengan melihat kondisi mereka atau ucapan mereka; kepada para petugas yang ditugaskan oleh pemerintah untuk menghimpun zakat; kepada orang-orang kafir yang diluluhkan hatinya supaya mau memeluk Islam, atau orang-orang mukmin yang lemah iman supaya imannya menjadi kuat, atau orang-orang yang dikhawatirkan kejahatannya; kepada para budak yang ingin memerdekakan dirinya; kepada orang-orang yang terlilit hutang yang tidak berlebih-lebihan dan tidak digunakan untuk kemaksiatan apabila mereka tidak mampu membayar hutangnya; kepada pihak-pihak yang bertugas menyiapkan perbekalan bagi orang-orang yang berjihad di jalan Allah; dan kepada para musafir yang kehabisan bekal di tengah perjalanan. Membatasi pembagian harta zakat pada golongan-golongan tersebut adalah kewajiban dari Allah. 

Dan Allah Maha Mengetahui kemaslahatan hamba-hamba-Nya, lagi Maha Bijaksana dalam pengaturan dan penetapan syariat-Nya."

"Jadi semakin kita kaya harus semakin besar juga kepedulian terhadap sosial," timpal Prof Haris.

Sementara itu, Dosen Fakultas Syariah UIN Malang Dr H M Fauzan Zenrif MAg menjelaskan, di dalam Alquran terdapat dua tipe rezeki. Yakni rezeki yang perlu diusahakan dan yang diberikan tanpa diusahakan.

"Tipe rezeki yang perlu diusahakan dalam hal ini tentu berdasarkan terhadap potensi kemampuan yang dimiliki oleh setiap manusia yang berbeda," jelasnya.

Sedangkan tipe yang kedua adalah rezeki dimana nikmat Allah itu diberikan tanpa diusahakan.

Soal ekonomi, dalam perspektif Alquran, kata Fauzan, dasar paling utamanya adalah tauhid.

"Ekonomi tidak mungkin bisa sukses tanpa tauhid," tegasnya.

Dosen Program Magister Ekonomi Syariah Dr H Ahmad Djalaluddin Lc MA menyatakan bahwa Allah memberikan sumber daya untuk dimanfaatkan manusia.

"Sumber daya disiapkan Allah untuk didayagunakan oleh manusia," pungkasnya.

Keempat dosen di atas menjadi narasumber dalam diskusi tematik "Al-Qur'an dan Ekonomi" pada acara Syiar Ramadhan 1441 H UIN Malang. Acara yang disiarkan setiap hari ini digelar di hall Rektorat UIN Malang. Jumlah peserta yang datang terbatas dan tetap memperhatikan physical distancing. Rektor UIN Malang Prof Dr Abdul Haris MAg bertindak langsung sebagai host.