Infografis (dok. MalangTIMES)
Infografis (dok. MalangTIMES)

Di tengah masyarakat mencuat empat pejabat tinggi Kabupaten Malang yang dianggap memiliki kemampuan untuk menggantikan Didik Budi Muljono sebagai Sekretaris Daerah (Sekda).

Seperti diketahui, Didik Budi akan melepas jabatannya dikarenakan purna tugas atau pensiun bulan depan. 

Tak dinyana, kondisi akan kosongnya kursi Sekda itu menyimpan cerita lain. Tak hanya rutinitas dalam pemerintahan saja yang akan dihadapi, tapi disinyalir ada pertarungan di dalamnya. Pertarungan politik antara Didik Budi dan Sanusi Bupati Malang dalam Pilkada 2020 yang tertunda.

Salah satu pejabat di lingkungan Pemkab Malang secara tegas menyampaikan adanya hal itu. "Ia, ada itu. Upaya untuk 'jegal' dan saling cepat 'curi' dukungan hingga provinsi sudah sejak kemarin-kemarin," ucapnya ke wartawan.

Dua kubu besar dalam Pemkab Malang dengan preferensi pilihan politik berbeda itu semakin mencuat dan kentara dalam seleksi calon Sekda. Aromanya sangat kuat saat Didik dan Sanusi sama-sama masih mencari rekom partai politik untuk menjadi calon Bupati di pilkada 2020.

Bahkan, sempat mencuat juga adanya pemetaan kubu saat itu. Lepas dari kebenarannya yang sulit dibuktikan, tarikan politik Pilkada itu masih menguar di seleksi calon Sekda. Para kandidat yang digadangkan tak lepas juga dari tarikan politik dan kubu besar Didik Budi dan Sanusi.

Wahyu Hidayat Kepala Dinas Perumahan Kawasan Permukiman dan Cipta Karya (DPKPCK), serta kerap diasumsikan sebagai bagian atau kubu Sanusi, menyampaikan, bahwa sebagai ASN dirinya tak berpolitik praktis.

"Kita ASN dan tak diperkenankan berpolitik praktis. Saat kita taat ke pimpinan, itu adalah bagian dari kewajiban seluruh ASN. Jadi jangan disalahartikan loyalitas ASN ke pimpinan dengan kepentingan politik," ucapnya.

Pernyataan Wahyu yang juga digadang-gadangkan memiliki kans besar menggantikan Didik, hampir senada dengan yang dikisahkan Nurman Ramdansyah.

Kepala Badan Kepegawaian Pengembangan Sumber Daya Manusia (BKPSDM) Kabupaten Malang yang namanya juga mencuat sebagai kandidat Sekda, mengatakan, dirinya hanyalah prajurit.

"Yang jelas saya ini prajurit. Prajurit itu kan apa kata pimpinan ya, kalau pimpinan memberikan izin ya tentu harus siap, itu aja normatifnya, tidak ada larangan,” ujar Nurman saat dirinya menjawab terkait kesiapan maju dalam seleksi calon Sekda.

Nurman kerap diperbincangkan merupakan bagian dari Didik Budi. Walau sekali lagi dengan tegas dirinya mengatakan, yang jadi pimpinannya dan perangkat daerah Kabupaten Malang adalah Sanusi.

"Pimpinan dalam hal ini Bupati Malang. Jadi saya taat pada pimpinan ini. Terkait ini (seleksi Sekda) bila Bupati meminta dan mengijinkan saya ikut dalam seleksi. Saya siap," tegasnya.

Sedangkan nama lainnya, yaitu Tomie Herawanto Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Malang, menyikapi persoalan itu dengan berserah diri kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.

“Saya satu saja, Subhanallah. Wes ngono ae wes (udah gitu aja). Tidak berpanjang-panjang. Apa kata Yang Maha Kuasa, begitu aja,” ujar mantan Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan ini, Selasa (5/5/2020).
Tomie juga terlihat enggan untuk membahas persoalan seleksi Sekda. Dengan tegas dirinya mengatakan, dirinya siap menjawab permasalahan lainnya selain terkait seleksi Sekda. Terutama dengan munculnya namanya di tengah bursa dan tarikan kepentingan politik Pilkada.

“Udahlah jangan berandai-andai. Nggak udahlah, nggak mau aku kalau perkara itu saya nggak akan komentar lebih jauh,” tegasnya.

Pemunculan nama-nama sebagai calon pengganti Didik Budi, tentunya tak begitu saja berkembang. Selain faktor tarik ulur politik Pilkada 2020 dan preferensi politik di belakangnya. Keempat kandidat yang namanya ramai diperbincangkan memang memiliki jejak mumpuni dalam pemerintahan.

Tomie dikenal dengan etos kerjanya yang tinggi, jujur, dan berani berhadapan dengan unsur-unsur yang membawa kepentingan pribadi atau golongan. Pengalamannya selama menjabat di beberapa OPD memperlihatkan karakter ASN yang kuat, sederhana dan tak kenal kompromi berhadapan dengan pihak yang menabrakkan kepentingannya dengan aturan yang ada.

Sementara itu, Kepala Inspektorat Kabupaten Malang, Tridiyah Maistuti yang namanya juga muncul di publik sebagai bursa calon Sekda. Menyampaikan via chat WhatsApp saat diminta keterangan oleh wartawan.

Inspektur Kabupaten Malang yang juga disebut-sebut dekat dengan Didik Budi yang juga pernah menjabat di Inspektorat, menyampaikan sedang ada agenda rapat dengan DPRD terkait anggaran.

"Saya bukan calon mas, jangan keliru ya. Itu publik yang keliru," tulis Tridiyah.

Perempuan murah senyum tapi memiliki ketegasan ini juga menegaskan, tidak menghendaki namanya disangkutpautkan dalam bursa calon Sekda Kabupaten Malang.

"Jadi saya bukan calon dan saya tak menghendaki nama saya disangkut pautkan dalam hal ini," tegasnya.