Ilustrasi (Istimewa).
Ilustrasi (Istimewa).

Perbudakan di zaman jahiliah bukan hal yang tabu. Bahkan, pada masa syiar Rasulullah SAW, perbudakan masih terjadi di mana-mana. 

Untuk menjadi hamba merdeka, biasanya seorang budak akan menempuh berbagai upaya. Salah satunya adalah dimerdekakan oleh majikannya.

Dalam sejarah Islam, kisah perbudakan yang cukup terkenal adalah kisah dari sosok Wahsyi bin Harb. 

Sebelumnya ia dikenal sebagai budak berkulit hitam yang berasal dari Ethiopia milik Hindun Binti Utbah, istri panglima perang kaum Quraisy yaitu  Abu Sufyan bin Harb.

Hindun Binti Utbah merupakan salah satu wanita Quraisy yang sangat menentang ajaran Islam. Hingga pada akhirnya dia kehilangan banyak saudara saat Perang Badar berlangsung. 

Dia pun menyimpan kebencian luar biasa ketika ayah dan saudara-saudaranya mati dalam Perang Badar tersebut.

Hingga pada akhirnya, kaum Quraisy memilih untuk menyerang umat muslim dalam sebuah peperangan yang kemudian kita kenal sebagai Perang Uhud. 

Itu menjadi kesempatan bagi Hindun Binti Utbah untuk membalaskan dendamnya.

Dia pun menyewa seorang pembunuh bayaran bernama Wahsyi bin Harb. 

Hindun meminta agar Wahsyi membunuh paman Rasulullah SAW yaitu Hamzah bin Abdul-Muththalib dengan bayaran yang sangat besar, yaitu memerdekakan Wahsyi dari perbudakan jika memang berhasil.

Wahsyi yang dikenal ulung dan sangat pandai menombak itu pun memilih bergabung dengan pasukan Quraisy. 

Dalam medan perang, ia selalu konsentrasi untuk membidik paman Rasulullah SAW yang mendapat julukan Singa Allah itu.

Singkat cerita, Wahsyi berhasil menombak Hamzah bin Abdul-Muththalib dan kena pada bagian pinggang serta tembus ke bagian muka di antara dua pahanya. 

Lantaran tombak itu, Hamzah berusaha berdiri, namun tak kuasa. Pada akhirnya Hamzah wafat sebagai syahid di medan Perang Uhud.

Gugurnya Hamzah bin Abdul-Muththalib menyisakan luka yang sangat mendalam bagi Rasulullah SAW. Terlebih, jasad sang paman dicabik begitu keji oleh kaum Quraisy. 

Dalam berbagai catatan sejarah disebut jika hati Hamzah diambil lalu dikunyah oleh Hindun Binti Utbah dan suaminya, Abu Sufyan bin Harb.

Mata sang paman pun dicongkel, termasuk mulut dan hidung serta ke dua telinga yang juga dilukai begitu sadis dan tak manusiawi. 

Hal itu membuat Rasulullah SAW sangat bersedih, karena begitu kejinya hati quraisy saat itu.

Sedangkan dalam riwayat lain disebutkan jika Wahsyi adalah sosok yang membelah dada Sayyidina Hamzah serta mengeluarkan jantungnya. 

Kemudian memotong hidung dan telinga dan bibir, serta mencungkil ke dua mata Hamzah lantas di bawakan kepada Hindun.

Pasca insiden tersebut, Wahsyi dibebaskan dan dimerdekakan oleh Hindun. 

Hingga pada akhirnya Fattah Makkah, Rasulullah datang bersama 100 ribu pasukan muslimin dan membuat Quraisy ketakutan, termasuk Wahsyi.

Dia lari hingga ke pinggir pantai. Kemudian istri Wahsyi pun mendatangi Rasulullah dan bertanya, apakah setiap orang yang memiliki dosa akan diampuni. 

Kemudian Rasulullah SAW menjawab, "Allah memaafkan semua yang terdahulu jika orang mau bertaubat, masuk Islam Taubat sudah tidak ada lagi dosa,".

Kabar itu disampaikan kepada Wahsyi. Mendengar itu, Wahsyi tak langsung menemui Rasulullah SAW. 

Dia bertanya apakah istrinya tersebut sudah menyampaikan jika suaminya yang penuh dosa itu adalah dirinya, Wahsyi.

Sang istri kemudian kembali menemui Rasulullah SAW dan menyampaikan siapa suaminya tersebut. 

Mendengar cerita itu, Rasulullah SAW langsung terdiam dan tertunduk dengan wajah yang berbeda. Lalu turunlah ayat yang berbunyi sebagai berikut.

"Katakan Wahai hamba-hambaku yang telah melampaui batas dalam berbuat dosa, jangan berputus asa dari kasih sayang Allah, Allah mengampuni semua dosa,".

Rasulullah SAW kemudian menyampaikan ayat tersebut kepada para sahabat juga istri Wahsyi. Kemudian diminta lah Wahsyi menghadap Rasulullah SAW. 

Saat itu, Rasulullah SAW menyampaikan jika ia telah memaafkan Wahsyi dan dia pun masuk Islam.

Setelah menyampaikan jika Rasulullah SAW telah memaafkannya, Wahsyi pun diminta tak menampakkan wajahnya dihadapan Rasulullah SAW.

"Aku sudah memaafkanmu, tapi kalau aku lihat wajahmu aku terbayang wajah Hamzah bin Abdul Muththallib yang rusak di hancurkan olehmu saat itu, aku teringat wajah Hamzah, makanya jangan muncul di hadapanku lagi," kata Rasulullah SAW.

Hal itu membuat Wahsyi merasa sangat kecewa. 

Dia pun menuruti permintaan Rasulullah SAW untuk tak menampakkan wajahnya dihadapan Rasulullah SAW. 

Hingga pada akhirnya Rasulullah SAW wafat.

Sampai pada masa kemunculan Musailamah al-Kazzab, orang yang mengaku sebagai nabi, Wahsyi ikut berperang dan membunuh Musailamah dengan tombak yang sama yang dia gunakan untuk membunuh Hamzah bin Abdul-Muththalib.

Pasca itu, Wahsyi semakin meningkatkan keimanan. Untuk mendapatkan hati dan cinta Rasulullah SAW, Wahsyi bertekad untuk tak kembali pulang ke Makkah dan melanjutkan syiar ajaran Islam keberbagai penjuru negeri.