Kapolsek Bululawang, Kompol Pujiyono (depan paling kanan) beserta perangkat Desa Kasembon sesaat setelah mengamankan pelaku pembunuhan terhadap balita 1,5 tahun (Foto : Ashaq Lupito / MalangTIMES)
Kapolsek Bululawang, Kompol Pujiyono (depan paling kanan) beserta perangkat Desa Kasembon sesaat setelah mengamankan pelaku pembunuhan terhadap balita 1,5 tahun (Foto : Ashaq Lupito / MalangTIMES)

Polisi masih terus mendalami kasus penganiayaan terhadap tiga orang korban, yang mengakibatkan seorang balita meninggal dunia. Salah satunya, dengan cara membawa pelaku yang berinisial SU warga Desa Kasembon, Kecamatan Bululawang, Kabupaten Malang itu ke RSJ (Rumah Sakit Jiwa).

”Selanjutnya pelaku akan kami kirim ke RSJ Lawang, untuk memastikan apakah yang bersangkutan memang mengalami gangguan jiwa," kata Kompol Pujiyono Kapolsek Bululawang, Senin (11/5/2020).

Baca Juga : Wali Kota Batu Takjub dengan Kirab Gunungan Tumpeng, Buah, dan Sayur

Pujiyono melanjutkan, walau dari keterangan beberapa saksi, pelaku memang ada riwayat gangguan jiwa. Tapi dalam kasus itu, pihaknya tetap akan memastikannya lagi.

"Terakhir pada bulan Januari 2019 lalu, pelaku pulang dari RSJ setelah menjalani perawatan karena mengalami gangguan jiwa,. Itu informasi dari para saksi,” ujar Pujiyono saat ditemui di kantor Mapolsek Bululawang.

Tak hanya itu, polisi juga memanggil beberapa saksi untuk dimintai keterangan. Para saksi yang dihadirkan tersebut, diantaranya merupakan perangkat Desa Kasembon.

Uniknya dari hasil keterangan saksi terungkap, bahwa pelaku yang mengalami gangguan jiwa itu pernah meminta uang sebesar Rp 5 miliar kepada kepala desa (Kades).

”Berdasarkan keterangan yang kami himpun, pelaku sempat mencari Kades (Kepala Desa) Kasembon untuk meminta bantuan sosial berupa uang senilai Rp 5 miliar,” ujar Pujiyono.

Pelaku menagih uang bantuan sosial tersebut, pada Senin (11/5/2020) pagi sekitar pukul 08.00 WIB. Namun, karena nominalnya tidak masuk akal dan yang diomongkan ngelantur, perangkat desa yang menemui pelaku pada saat itu memilih untuk tidak menanggapi permintaannya.

”Pelaku sempat marah-marah karena tidak mendapat bantuan sosial berupa uang Rp 5 miliar. Setelah itu pelaku mencari keberadaan Kades yang kebetulan saat itu belum tiba di kantor desa,” ungkap Pujiyono.

Mengetahui jika Kades tidak ada di ruangannya, pelaku yang saat ini berusia sekitar 40 tahun itu memilih untuk pulang kerumah. ”Setelah pulang kerumah, ibu dari pelaku datang ke kantor desa untuk minta tolong agar perangkat desa mengawasi putranya. Sebab tadi malam (Minggu 10/5/2020) gangguan jiwa yang dialami pelaku diduga kambuh,” imbuhnya.

Terpisah, Lurah Kasembon, Priyono mengaku jika sesaat setelah mendapatkan mandat dari ibu pelaku, perangkat desa Kasembon langsung mengamati gerak-gerik SU.

”Kalau dari keterangan pamong saya, setelah masuk ke dalam rumah pelaku keluar dengan membawa senjata tajam dan berlari ke arah timur,” kata Priyono.

Baca Juga : Keseruan Ribuan Warga Serbu Gunungan Tumpeng Buah dan Bunga Kirab Nyawiji Sengkuyung Bumiaji Kota Batu

Mengetahui hal itu, dua orang pamong desa bergegas membuntuti arah pelaku lari. Namun meski sudah dikejar, pria 40 tahun itu mendadak hilang. 

”Pamong saya yang ngejar ada 2 orang, tapi tidak ketemu. Pas ketemu pelaku sudah di pinggir jalan setelah membacok kakek dari balita yang meninggal itu,” jelasnya.

Seperti yang diberitakan, Senin (11/5/2020) pagi, sekitar pukul 09.15 WIB. Masyarakat setempat yang tinggal di Desa Kasembon, Kecamatan Bululawang dibuat gempar. Kehebohan warga tersebut, lantaran 3 orang warga setempat dianiaya pelaku dengan menggunakan sebilah celurit.

Sekedar diketahui, 3 orang korban itu satu diantaranya merupakan balita 1,5 tahun yang berinisial VA. Sedangkan dua korban lainnya adalah kakak VA yang berinisial AZ (9) dan kaleknya yang berinisial SN (65).

Atas kejadian tersebut, balita 1,5 tahun itu meninggal dunia karena mengalami luka bacok dibagian leher hingga dagu. Sedangkan 2 korban lainnya masih menjalani perawatan di rumah sakit karena mengalami luka parah dibagian kepala.

”Korban yang meninggal sudah dimakamkan di TPU (Tempat Pemakaman Umum) setempat,” tutup Priyono yang juga sempat mengikuti prosesi pemakaman balita VA.