Guru Besar Universitas Brawijaya (UB) Malang, Profesor Sutiman Bambang Sumitro
Guru Besar Universitas Brawijaya (UB) Malang, Profesor Sutiman Bambang Sumitro

Guru Besar Universitas Brawijaya (UB) Malang, Profesor Sutiman Bambang Sumitro tentu sudah tak asing dalam dunia kesehatan. Beberapa tahun lalu, pria kelahiran Jogjakarta itu sempat menghebohkan dunia kesehatan dengan temuan rokok sehatnya.

Tak berhenti meneliti, Guru Besar Biologi Sel dan Molekuler UB itu kembali menyampaikan beberapa temuannya. Kali ini, temuan itu diyakini mampu menjadi salah satu alternatif untuk mencegah Covid-19.

Baca Juga : Terkait Seleksi Kursi Sekda, LIRA Malang: Harapan Saya yang Sesuai Pilihan Bupati

 

Ditemui disela agenda pertemuannya dengan akademisi di Kota Malang bersama Satgas Covid-19 NU Malang dan MalangTIMES untuk membahas tentang solusi baru menghadapi covid-19 di Pondok Pesantren Bahrul Maghfiroh, Senin (18/5/2020) sore, Profesor Sutiman menjelaskan beberapa kandungan dari kopi yang telah ia formulasikan dengan beberapa formula khusus itu.

Sebelum menginjak pada penjelasan lebih jauh mengenai manfaat kopi yang telah ia formulasikan dengan beberapa formula itu, Profesor Sutiaman terlebih dulu bercerita tentang asal muasal temuannya tersebut.

Dia menyebut, temuannya itu merupakan invensi dari seorang dokter bernama Dokter Grita Saha yang sebelumnya menggunakan kopi untuk meluruhkan radikal bebas. Awal mulanya, temuan tersebut diperuntukkan mengobati kanker.

"Radikal bebas ini menjadi energi manusia untuk bertahan hidup, tapi dalam kasus orang sakit, radikal bebas terjadi badai yang ukurannya menjadi tak normal seperti saat orang sehat," katanya.

Ketika seseorang sakit dan radikal bebasnya berukuran lebih banyak dibanding ukuran normal, maka akan berpengaruh pada aliran darah manusia. Salah satu ciri khasnya adalah terjadi pengentalan dan aliran darah menjadi terhambat.

Namun kopi yang diformulaiskan dengan beberapa formula, menurutnya mampu meluruhkan radikal bebas yang berlebih tersebut. Sehingga, secara otomatis akan mampu membuat aliran darah mengalir jauh lebih normal.

"Dan pengentalan itu sebenarnya juga terjadi pada kasus covid-19," terang pria kelahiran tahun 1954 itu.

Profesor Sutiman menyampaikan, kopi yang ia formulasikan dengan beberapa formula khusus itu bukan didesain sebagai obat Covid-19. Namum bisa menjadi salah satu alternatif mencegah Covid-19. Sehingga, bisa dikonsumsi oleh seseorang yang terindikasi kasus Covid-19.

Diantaranya seperti Pasien Dalam Pengawasan (PDP) hingga pasien konfirmasi positif Covid-19. Karena fungsi utamanya adalah meluruhkan radikal bebas berlebih yang diproduksi saat seseorang sedang sakit.

Kopi buatannya itu pun dapat dikonsumsi oleh orang yang sakit mag sekalipun. Karena cara mengkonsumsinya memang menggunakan satu butir telur, yang fungsinya adalah agar aman pada lambung saat dikonsumsi.

"Untuk pencegahan, bisa diminum satu kali sehari. Atau jika untuk PDP bisa diminum tiga kali dalam sehari," terangnya.

Dia juga menyampaikan jika kopi formula khusus tersebut sudah ia konsumsi bersama keluarganya sejak beberapa tahun terakhir. Saat pandemi Covid-19, produk yang ia temukan itu juga sudah dimanfaatkan oleh tenaga kesehatan di beberapa daerah seperti Jambi dan Semarang.

Dari hasil laporan yang ia dapat, kopi formula khusus buatannya itu terbilang ampuh. Sehingga dikonsumsi secara terus menerus sebagai upaya pencegahan. 

"Kata dokter yang mengkonsumsi ini terasa lebih baik dan responsnya positif," tambah Profesor Sutiman.

Lebih jauh dia menjelaskan, kopi yang ia gunakan berasal dari berbagai jenis kopi. Dia pun tak mematok hanya pada satu jenis kopi saja. Kemudian kopi diformulasikan dengan beberapa formula khusus. Biaya pembuatan kopi formula itu menurutnya juga terbilang sangat murah.

Penelitian berkaitan dengan kopi formula itu sendiri telah dilakukan Profesor Sutiman sejak 2007 lalu. Diantaranya melalui kajian teori hingga uji coba kepada hewan, bakteri, dan terakhir manusia.

Baca Juga : Jabatan Sekda (Bisa) Diperpanjang, Ini Kata Kepala BKPSDM

 

Bukan hanya untuk dikonsumsi, kopi formula buatannya itu juga bisa dijadikan dalam bentuk spray. Untuk produk spray itu sendiri dapat digunakan menyembuhkan luka yang terlihat di atas kulit. Cukup dengan disemprotkan saja, maka luka akan sembuh.

Sementara untuk upaya pencegahan Covid-19, Profesor Sutiman menyampaikan, jika kopi formula buatannya bisa menjadi salah satu alternatif. Pemerintah pun bisa melakukan uji klinis lebih mendetail berkaitan dengan temuan tersebut dan menyesuaikan dengan standar protokol kesehatan Covid-19.

Karena bagaimana pun juga, saat ini masyarakat dituntut untuk bisa hidup berdampingan dengan Covid-19. Pembekalan pola hidup sehat yang salah satunya dengan memanfaatkan kearifan lokal seperti obat-obatan atau jamu-jamuan tradisional menurutnya perlu dilakukan penelitian lebih jauh.

Terlebih, dari berbagai penelitian telah menyebut jika virus Covid-19 bisa menyebar ke berbagai sel kehidupan manusia. Salah satunya dengan menyesuaikan dengan kondisi yang ada di masing-masing daerah.

Sehingga, pemerintah juga harus melepaskan ketergantungan masyarakat pada obat-obatan yang diproduksi negara lain. Melainkan mulai fokus menyelesaikan masalah melalui sumber daya yang dimiliki sendiri. Salah satunya juga dengan mengandalkan obat herbal yang sidah dimanfaatkan nenek moyang Indonesia sejak dulu.

"Riset seharusnya mengarah pada kebiasaan yang ada di negeri kita. Karena bagaimanapun orang-orang negeri kita yang tahu kondisi masyarakat," tambahnya.

Dia juga menyampaikan jika keberadaan obat herbal saat ini sudah banyak dimanfaatkan oleh dunia. Terbukti, ada banyak perusahaan farmasi di luar negeri yang selama ini memprodukai obat herbal dan seluruh bahannya mengimpor dari Indonesia.

Selain kopi formula temuannya, Profesor Sutiman juga menyebut jika empon-empon menjadi salah satu obat tradisional yang perlu dilakukan riset lebih mendalam. Karena sebelumnya, riset berkaitan dengan kandungan empon-empon dan manfaatnya untuk tubuh juga sudah beberapa kali dilakukan.

Dalam pertemuan meja kotak yang dilakukan angara akademisi UB dengan Satgas Covid-19 NU Malang dan MalangTIMES itu, temuan dari Profesor Sutiman tersebut direncanakan untuk dilakukan uji klinis lebih jauh. Sehingga dapat menjadi salah satu pedoman sehat saat masyarakat harus hidup berdampingan dengan Covid-19.

Dalam pertemuan meja kotak yang digelar di Pondok Pesantren Bahrul Maghfiroh pada Senin (18/5/2020) sore itu, hadir sebagai tuan rumah adalah pengasuh Pondok Pesantren Bahrul Maghfiroh sekaligus Rektor Universitas Brawijaya Malang periode 2014-2018, Prof. Dr. Ir. Mohammad Bisri dan Guru Besar Universitas Brawijaya, Profesor Sutiman Bambang Sumitro beserta istri.

Kemudian Ketua PCNU Kota Malang KH Isroqun Najah atau akrab disapa Gus Is beserta jajaran dari Satgas Covid-19 NU Malang dan Direktur JatimTIMES Lazuardi Firdaus dan General Manager JatimTIMES, Heryanto.

Tulisan berkaitan dengan tata cara mengkonsumsi kopi formula Profesor Sutiman akan dibahas dalam tulisan selanjutnya, lengkap dengan video.