Akademisi Kota Malang dari Universitas Brawijaya (UB) sekaligus Mustasyar NU Kota Malang Prof Dr Ir Muhammad Bisri MS.
Akademisi Kota Malang dari Universitas Brawijaya (UB) sekaligus Mustasyar NU Kota Malang Prof Dr Ir Muhammad Bisri MS.

Pandemi Covid-19 masih belum menunjukkan tanda-tanda mereda di Indonesia. Virus ini telah bersemai di 34 Provinsi dan di 389 Kabupaten/Kota dengan total yang terkonfirmasi positif 18.010 kasus.

Untuk memutus rantai penyebaran virus ini, sejumlah daerah di Indonesia telah memberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), termasuk di Malang Raya. Sebelumnya, masyarakat sudah melakukan physical distancing, work from home, karantina mandiri, dan lain-lain.

Baca Juga : Jabatan Sekda (Bisa) Diperpanjang, Ini Kata Kepala BKPSDM

Seluruh kebijakan ini sangat memengaruhi perekonomian, khususnya pada sektor perdagangan dan perindustrian. Jika skenarionya terus begini, masyarakat mungkin saja tidak terpapar Covid-19, namun bisa mati kelaparan. Sebab mereka merasakan bantuan dari pemerintah tidak merata.

Hal ini juga yang membuat sebagian masyarakat terpaksa keluar rumah untuk mencari nafkah. Kita tentu tidak bisa serta-merta menyalahkan orang yang memilih keluar rumah, sebab dapur harus tetap mengepul.

Melihat segala permasalahan Covid-19 yang terus melebar dan tak kunjung selesai ini, para akademisi dan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Malang bergabungĀ mencari jalan keluar.

Belum lama ini bertempat di Pondok Pesantren Bahrul Maghfiroh Malang, Satgas Covid-19 NU Malang Raya, Ketua PC NU Kota Malang Dr Isroqunnajah MAg, serta Akademisi Kota Malang dari Universitas Brawijaya (UB) Prof Dr Ir Muhammad Bisri MSĀ (Mustasyar NU Kota Malang) dan Prof Prof Sutiman Bambang Sumitro MS DSc dengan media online MalangTIMES mengadakan pertemuan khusus untuk berdiskusi dalam rangka untuk mencari jalan keluar dalam penanganan Covid-19.

Prof Bisri menyampaikan, mereka akan menyusun buku panduan hidup di tengah wabah Covid-19.

"Harapannya nanti Satgas NU Covid-19 itu menyusun buku-buku panduan atau manual prosedur. SOP-SOP bagaimana kita hidup di tengah-tengah wabah Covid-19 ini tetapi menjaga kesehatan kita masing-masing," ucapnya.

Seperti yang kita tahu, karena pandemi ini tak juga selesai selama berbulan-bulan lamanya, Presiden Jokowi melayangkan pernyataan Indonesia akan memasuki fase tatanan kehidupan baru alias The New Normal belum lama ini.

Prof Bisri menjelaskan, buku panduan ini nantinya akan berisi manual prosedur bagaimana hidup di dalam masjid, di dalam pasar, hidup di rumah tangga, di lapangan olahraga, dan lain-lain.

"Dan semua itu akan dibuatkan manual prosedurnya sesuai dengan standar kesehatan. Dan ada manual prosedur khusus untuk penanganan covid PDP maupun yang positif," sambung mantan rektor UB tersebut.

Prosedur tersebut nantinya juga berisi cara memperkuat imun dengan meminum obat-obat herbal atau kearifan lokal.

"Tadi Prof Sutiman juga sudah menjelaskan bagaimana mekanisme virus Covid itu bekerja, dan ternyata beliau juga sudah punya salah satu ikhtiar alat tangkalnya untuk menangkal Covid-19," timpalnya.

Baca Juga : Ahli Tata Pemerintahan UB: Sebaiknya Birokrasi Bebas dari Intervensi Politik

Oleh karena itu, pertemuan tersebut sangat penting karena menghasilkan sesuatu yang memang untuk membantu masyarakat. Sehingga, katanya, masyarakat sudah tidak boleh lagi takut dengan kehidupan di tengah tengah wabah Covid-19 ini.

"Jadi jika ingin hidup normal kembali ada koridor-koridor yang telah disusun oleh Satgas Nahdlatul Ulama. Mudah-mudahan ini bisa menjadi jalan keluar dan kita bisa kembali hidup normal seperti sedia kala," tuturnya.

Buku pedoman ini diharapkan selesai sebelum PSBB di Kota Malang berakhir. Nantinya, akan disosialisasikan dulu ke masyarakat dan jamaah-jamaah NU oleh para kiai.

"Sehingga semua sudah punya pegangan untuk biar kita juga tidak terlalu was-was untuk menghadapi Covid-19," tegasnya.

Nah, dilibatkannya akademisi atau ilmuwan dalam membuat buku panduan ini dirasa penting sebab penanganan Covid-19 ala NU harus memperhatikan sains yang diintegrasikan dengan agama Islam.

Kita tahu, selama ini anggapan masyarakat sains dengan ilmu agama ini terpisah. Padahal, sains adalah bagian dari ilmu agama. Baru-baru ini juga muncul fiqih lingkungan, fiqih sampah. Maka suatu saat nanti, harus muncul juga fiqih covid, fiqih kesehatan, fiqh drainase, dan seterusnya. Sehingga antara ilmu sains dengan fiqih bergabung jadi satu.

"Sehingga harapan saya nanti kalau orang mengerjakan desain bangunan itu basisnya adalah fiqih, dasarnya adalah ibadah kepada Allah, sehingga bisa berkah. Jadi kehidupan agama betul betul membumi. Tidak terkesan ada gap. Mestinya nggak boleh ada gap," pungkas Prof Bisri.