Ilustrasi covid-19. (Foto: marwahkepri.com)
Ilustrasi covid-19. (Foto: marwahkepri.com)

Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Brawijaya (UB) Dr Antoni SSos MSi berpendapat pemahaman kita tentang informasi Covid-19 telah kacau. Hal ini disebabkan banyaknya penyebaran informasi hoax, berita bohong (fake news).

"Penilaian masyarakat terkait kelambanan para pemangku kebijakan di banyak negara untuk mengambil keputusan dalam  menyikapi pendemi ini juga menambah permasalahan," sambungnya dalam Webinar "Masa Depan Public Relations di Tengah Perubahan Dunia Akibat Pandemi Covid-19" beberapa waktu yang lalu.

Baca Juga : Kombinasi Dua Obat Herbal Ini Jadi Duo Ampuh Tangani Covid

Untuk itu, peran ilmu komunikasi sangat dibutuhkan, terutama penyampaian informasi yang jelas melalui Pers. 

Kata Antoni, peran profesi PR harus bisa memberi informasi yang tepat dengan beberepa pendekatan seperti biologi komunikasi, human communicartion, family coomunication, instructional communication, interpersonal communication, political communication, health communication, dan new media.

"Dari semua pendekatan, pendekatan komunikasi interpersonal perlu dimaksimalkan untuk menginformasikan hal terkait Covid-19 dan pendekatan biologi komunikasi serta komunikasi kesehatan dengan fakta-fakta ilmiah," imbuhnya.

Dia juga berpesan agar tidak hanya fokus pada komunikasi saat terjadi pendemi Covid-19, namun juga masa recovery atau pemulihan nantinya. Sehingga masyarakat bisa benar-benar memahami tentang informasi Covid-19 secara utuh.

Baca Juga : Penjual Kelapa di Pasar Besar Kota Batu Positif Covid 19

"Mari kita bersama dengan semangat solidaritas masyarakat dalam konteks lingkungan untuk mengembalikan kondisi seperti semula. Kecermatan dalam memilah informasi juga sangat diperlukan agar tidak terjadi disinformasi pemahaman terkait pendemi Covid-19," pungkasnya.