Wakil Presiden RI, Ma'ruf Amin dalam Webinar Nasional yang digelar UIN Malang. (Foto: Ima/MalangTIMES)
Wakil Presiden RI, Ma'ruf Amin dalam Webinar Nasional yang digelar UIN Malang. (Foto: Ima/MalangTIMES)

Dampak yang ditimbulkan oleh pandemi Covid-19 ini sangat luas dan bersifat multidimensi. Sehingga memaksa semua negara menetapkan kebijakan-kebijakan yang belum pernah dilakukan sebelumnya. Pemerintah di berbagai belahan dunia menerapkan kebijakan pembatasan pergerakan masyarakat dalam rangka mengurangi penularan Covid-19.

Beberapa negara menerapkan kebijakan yang ekstrem, seperti lockdown. Akan tetapi, Indonesia memilih untuk menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Ini yang sering disebut sebagai kerja, belajar, dan beribadah dari rumah.

Baca Juga : Tolak Keras Sekolah Dibuka di Era New Normal, IDAI Peringatkan 1 Juta Anak Bisa Meninggal

Apapun kebijakan pembatasan yang diambil tentu berdampak terhadap kegiatan ekonomi. Hampir semua negara mengalami pelambatan pertumbuhan ekonomi yang sangat signifikan.

Wakil Presiden Indonesia Ma'ruf Amin menyampaikan, ekonomi dan keuangan syariah punya potensi yang besar. Sebab, masyarakat muslim Indonesia merupakan bagian dari kelas menengah yang perkembangan kemampuan ekonominya sangat cepat dan dinamis.

"Mereka membutuhkan pilihan produk jasa dan keuangan yang sesuai dengan prinsip yang dianutnya," tuturnya dalam Webinar Nasional "Ekonomi Syariah di Indonesia: Kebijakan Strategis Pemerintah Menuju New Normal Life" yang diadakan oleh Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang (UIN Malang), Kamis (4/6/2020).

Di samping itu, kebutuhan akan produk halal merupakan bagian dari gaya hidup kelas menengah muslim yang dinamis.

Namun demikian pengembangan ekonomi dan keuangan syariah masih jauh dibandingkan dengan potensinya. Oleh karena itu, perlu adanya dorongan agar keuangan syariah dapat terus berkembang dan menjadi penggerak ekonomi nasional.

Potensi lainnya yang perlu dimanfaatkan adalah terkait dengan industri produk halal.

"Selain untuk mengisi kebutuhan domestik yang sangat besar, kita perlu juga mengambil peran dalam perdagangan produk halal global," ujar pria yang juga menjadi guru besar Ekonomi Syariah UIN Malang tersebut.

Pasar global memiliki potensi yang sangat besar. Pada tahun 2017, produk pasar halal dunia mencapai 2,1 triliun US Dollar dan akan berkembang terus menjadi 3 triliun US Dollar pada tahun 2023.

"Kita harus dapat memanfaatkan potensi pasar halal dunia ini dengan meningkatkan ekspor kita yang saat ini baru berkisar 3,8% dari total pasar halal dunia," timpalnya.

Baca Juga : UIN Malang Jadi Pelopor Rumuskan New Normal Life

Ma'ruf melanjutkan, kita harus bisa mengejar Brazil yang berdasarkan laporan Global Islamic Economy Report tahun 2019 merupakan eksportir produk makanan dan minuman halal, termasuk daging sapi dan unggas nomor satu dunia dengan nilai 5,5 miliar US Dollar.

Untuk mengejar Brazil, Indonesia bisa memanfaatkan bidang fashion muslim. State of the Global Islamic Economy Report 2018/2019 mencatat bahwa lebih dari 270 miliar US Dollar dibelanjakan muslim seluruh dunia untuk fashion pada tahun 2017.

"Angka ini diperkirakan akan meningkat menjadi 361 miliar US Dollar pada tahun 2023," imbuhnya.

Hal ini tentu merupakan peluang bagi Indonesia, baik untuk pasar domestik maupun untuk ekspor.

"Oleh karena itu kebijakan pemerintah ke depannya adalah mendorong industri produk halal menjadi produsen untuk pasar domestik sekaligus juga eksportir produk-produk halal untuk pasar halal dunia," pungkasnya.