Ilustrasi Bupati Malang HM Sanusi saat melantik pejabat di Pemkab Malang belum lama ini (Foto : dokumen MalangTIMES)
Ilustrasi Bupati Malang HM Sanusi saat melantik pejabat di Pemkab Malang belum lama ini (Foto : dokumen MalangTIMES)

Aroma kolusi di jajaran Pemerintahan Kabupaten Malang kini mulai merebak dan ramai menjadi perbincangan para Aparatur Sipil Negara (ASN) dan pejabat Pemkab Malang. 

Pasalnya, meski belum menduduki kursi pucuk pimpinan secara definitif di Pemkab Malang, Bupati Sanusi yang saat ini memimpin Kabupaten Malang sudah merancang nama-nama pejabat pilihannya saat dirinya masih menjabat sebagai Plt (Pelaksana tugas).

Baca Juga : Gabungkan Sains dan Islam, NU Kota Malang Susun Buku Panduan Hidup di Tengah Wabah 

(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({}); 

 

Diam-diam sejumlah nama yang notabene orang dekatnya sudah diproyeksi menduduki kursi jabatan tertentu. Yang menjadi sorotan banyak pihak adalah Bupati Sanusi terang-terangan mengangkat orang dekatnya lewat jenjang mutasi kilat.

Salah satunya adalah sosok Harry Setia Budi yang kini menjabat Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kabupaten Malang.

Harry, sapaan akrab Harry Setia Budi, yang saat itu merupakan ASN (Aparatur Sipil Negara) di Raja Ampat. dalam tempo yang singkat kini bisa duduk di singasana Kepala DP3A.

Mirisnya, dugaan bagi-bagi jabatan tersebut dilakukan Sanusi di tanah suci Makkah saat menjalankan ibadah umroh. 

Cerita itu terkuak saat media online ini berkunjung ke kantor DP3A pada pertengahan Juni lalu, guna mencari kebenaran dugaan praktik kolusi tersebut.

”Ya pindah, mutasi. Kebetulan kenal dengan pak Sanusi. Iya umroh sama-sama di awal tahun 2019,” celetuk Harry saat menjawab pertanyaan wartawan terkait awal mula dirinya berkarir sebagai PNS (Pegawai Negeri Sipil) di Pemerintahan Kabupaten Malang.

Seolah paham jika saudaranya punya andil besar untuk memerintah di Kabupaten Malang, mertua Harry yang disebut-sebut masih memiliki hubungan darah dengan Sanusi, langsung meminta “jatah” kursi kepada sang calon Bupati Malang definitif kala itu.

”Terus mertua saya bilang, ‘Wes bah anakku lo pindah o kek malang ae’ (Gini bah menantuku pindahkan saja ke Malang),” pinta mertuanya Harry kepada saudaranya yang tak lain adalah Sanusi.

Sebagai informasi, kesehariannya Bupati Malang HM Sanusi memang akrab disapa sebagai Abah Sanusi. Sedangkan sebutan bah itu merupakan kependekan dari panggilan Abah tersebut.

Mendapat permintaan dari mertuanya Harry, Sanusi kembali melempar pertanyaan yang ditujukan kepada keponakannya tersebut.

 ”Nendi saiki (sekarang dinas dimana),” ucap Harry saat menirukan ucapan Sanusi ketika di tanah suci.

Lha iku ndek Raja Ampat (Lha itu, sekarang masih dinas di Raja Ampat),” ucap sang mertua.

Lebih detail, Sanusi yang mengetahui jika Harry berdinas di Raja Ampat, beralih melontarkan pertanyaan kepada keponakannya tersebut. 

Grafis

Begini percakapan yang dijelaskan Harry kepada MalangTIMES.com saat dirinya bertemu dengan Sanusi di tanah suci.

”Apa sekarang (menjabat sebagai apa sekarang)?,” tanya Sanusi.

Sekdin bah (Sekertaris Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi di Raja Ampat),” jawab Harry.

”Mau pindah ke (Kabupaten) Malang?,” tanya Sanusi.

Baca Juga : Temuan Profesor UB Malang, Kopi dan Telur Ternyata Dapat Cegah Covid-19 

 

Mendapat pertanyaan tersebut, Harry langsung menganggukkan kepala sembari berkata ; 

”Ya mau,” sembari mengatakan ”kalau diterima,” sambung Harry sambil tersenyum saat menceritakannya kepada wartawan.

Tanpa menunggu lama, sepulang dari umroh pada bulan Februari 2019, Harry bergegas menyusun berkas kepindahannya dari Raja Ampat ke Kabupaten Malang, untuk menagih janji sang Bupati Malang.

”Saya memberanikan diri untuk pindah, akhirnya pulang dari umroh langsung ngurus berkas-berkas (keperluan pengajuan mutasi). Kemudian beliau (Sanusi) acc ya saya pindah (ke Kabupaten Malang),” jelas Harry.

Guna mempertegas, kami kembali melontarkan pertanyaan untuk memastikan jika Sanusi merupakan saudaranya. Namun, seolah tidak mau blunder kedua kalinya, Harry bergegas meralat ucapannya yang sebelumnya mengaku jika mertuanya dan Sanusi adalah saudara.

”Dari travelnya yang kasih tahu kalau nanti (pas umroh) kita akan sama-sama dengan Plt (Bupati Malang). Waktu itu beliau (Sanusi) masih Plt Bupati, kan Pak Rendra (Bupati Sebelum Sanusi) masih proses hukum, belum vonis pas  awal tahun (2019) itu. Jadi, beliau masih Plt. Waktu itu plt jadi belum (Bupati) definitif,” kata Harry dengan nada tergesa-gesa sembari raut wajah yang tercengang, saat kami kembali menegaskan hubungan saudara antara dirinya dengan Sanusi.

Tidak lama kemudian, Harry yang semula nampak ganyeng bercerita seketika beranjak dari tempat duduknya untuk menuju ke pintu ruang kerjanya. Setelah itu, dirinya hanya berucap jika pertemuannya dengan Sanusi di tanah suci tersebut adalah kehendak Tuhan. 

”Takdir mas,” ungkap Harry sembari mempersilahkan kami untuk pergi meninggalkan ruangannya.

Sebelum keluar, kami sempat mencoba untuk mengorek sedikit informasi sebagai tambahan. Alhasil, sebelum kami berpamitan, Harry menegaskan syarat yang diminta Sanusi jika dirinya ingin mutasi ke Kabupaten Malang adalah tidak diperkenankan minta kursi jabatan.

”Beliau (Sanusi) bilang yang penting tidak minta jabatan. Kemudian saya jawab ‘Iya bah yang penting saya pindah dengan keluarga ke sini (Kabupaten Malang)’ ,” tutup Harry saat menceritakan awal mula dirinya bisa pindah dinas ke Kabupaten Malang.

Tidak lama setelah moment tersebut, Harry bergegas membuka pintu ruangannya yang kemudian mengarahkan kami meninggalkan tempat kerjanya. ”Terimakasih atas kedatangannya,” pungkasnya.

Dari penelusuran kami di lapangan, proses pengangkatan Harry memang serba kilat. Sebab, setelah pindah dinas ke Kabupaten Malang, pria yang bulan July nanti genap berusia 40 tahun itu hanya butuh waktu 5 bulan untuk menjabat Kepala DP3A.

Seperti apa sepak terjangnya, simak terus ulasan berikutnya hanya di MalangTIMES.com.