Sulit Operasi Pasar, BI Malang Imbau Masyarakat Tak Bergantung Cabai Segar

Cabai rawit dan cabai merah yang dijual pedagang di Pasar Besar Kota Malang. (Foto: Nurlayla Ratri/MalangTIMES)
Cabai rawit dan cabai merah yang dijual pedagang di Pasar Besar Kota Malang. (Foto: Nurlayla Ratri/MalangTIMES)

BATUTIMES - Meskipun harga cabai meroket selama dua bulan terakhir, operasi pasar di Kota Malang tampaknya belum bisa dilakukan. Pasalnya, minimnya pasokan cabai terjadi hampir di seluruh daerah. Sebagai upaya memelihara kestabilan harga dan inflasi, Bank Indonesia (BI) Malang mengimbau agar masyarakat tak bergantung pada cabai segar. 

Seperti diketahui, saat ini harga cabai di pasar-pasar tradisional Kota Malang berkisar di angka Rp 90-100 ribu per kilogram. Kondisi ini dikeluhkan bukan hanya oleh konsumen rumah tangga. Para pelaku usaha kuliner pun merasakan dampak signifikan akibat mahalnya cabai.

Kepala Kantor Perwakilan (KPw) Bl Malang Azka Subhan Aminurridho mengungkapkan bahwa saat ini pemerintah diharapkan bisa mengajak masyarakat untuk melakukan perubahan pola konsumsi. Hal tersebut cukup relevan dilakukan untuk mengantisipasi fluktuasi harga cabai dalam jangka panjang. "Pola konsumsi masyarakat perlu diubah," ujar Azka.

"Masyarakat mulai dibiasakan untuk mengkonsumsi cabai kering yang juga memiliki kualitas bagus dengan selera cita rasa pedas, di samping memilih cabai segar," lanjutnya. Azka menyebut, peralihan pola konsumsi tersebut juga akan berimbas dalam menekan laju inflasi daerah. 

Meski demikian, Azka menyadari bahwa perubahan pola konsumsi tersebut tidak bisa dilakukan secara instan. Dia mengapresiasi munculnya banyak merek olahan cabai kering. Produk-produk tersebut dinilai bisa turut membiasakan lidah masyarakat pada cita rasa cabai kering.

 "Masyarakat terutama anak yang muda-muda mulai menggemari (produk olahan cabai kering) dan itu bagus. Sayangnya, sebagian besar masih tetap memilih cabai segar," paparnya. 

Seperti diberitakan sebelumnya, cabai rawit menjadi salah satu faktor terbesar yang mempengaruhi inflasi Kota Malang pada periode Juli 2019. Dengan harga mencapai 151,86 persen, cabai rawit memberikan andil sebesar 0,18 persen terhadap inflasi. 

"Kenaikan harga tersebut dipengaruhi faktor suppIy-demand. Salah satunya disebabkan oleh bergesernya masa panen cabai di beberapa sentra produksi cabai akibat faktor anomali cuaca dan permintaan masyarakat tetap tinggi," paparnya. 

Azka mengatakan bahwa sebenarnya pemerintah bisa mengambil peran untuk menekan harga dengan melakukan operasi pasar. Namun, langkah tersebut menurutnya sulit direalisasikan karena keterbatasan pasokan cabai di wilayah sekitar Malang Raya. 

"Kewenangan untuk mengambil Iangkah operasi pasar tersebut, berada pada tingkat provinsi dan pemerintah pusat. Operasi pasar memungkinkan untuk dilakukan, asalkan, stok cabai memang tersedia," terangnya. 

Dia menambahkan, terkait permasalahan cabai yang memiliki andil besar terhadap inflasi tersebut, harus dilihat dari kedua sisi. Pertama yakni sisi produksi, dan kemudian dari sisi konsumen. Dari sisi produksi, bergesernya masa panen di beberapa sentra produksi akibat faktor anomali cuaca memberi andil. Sementara dari sisi konsumen, permintaan terus tinggi meskipun pasokan berkurang. 

"Jadi, persoalan cabai ini bisa dilihat dari sisi produksi maupun sisi konsumen. Demikian juga untuk upaya penyelesaiannya," ungkapnya.

Pewarta : Nurlayla Ratri
Editor : Yunan Helmy
Publisher :
-->
Redaksi: redaksi[at]batutimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]batutimes.com | marketing[at]batutimes.com
-->