Emil Dardak Pesan Mahasiswa Jangan Jadi "Kupu-Kupu"

Wagub Jatim Emil di kampus UINSA.
Wagub Jatim Emil di kampus UINSA.

BATUTIMES - Kemajuan teknologi dan cepatnya perkembangan zaman menuntut generasi muda, terutama para mahasiswa baru, untuk terus bertindak sekaligus bersikap aktif dan produktif dalam mengembangkan potensi diri. 

Itu karena potensi diri perlu ditunjukkan dengan belajar beraneka  macam ilmu selama menempuh pendidikan di perguruan tinggi atau di lingkungan  kampus. Di samping itu, mereka juga harus mampu menciptakan active learning atau  pembelajaran aktif sebagai bekal terbentuknya SDM  (sumber daya manusia) yang kuat di masa depannya. 

Demikian disampaikan Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak saat 
memberikan pengarahan pada Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) Mahasiswa Baru Tahun Akademik 2019 UIN Sunan Ampel (UINSA) Surabaya (15/8). 

Lebih lanjut Emil Dardak menuturkan, jika semua usaha tersebut sudah dilakukan,  tinggal bagaimana lingkungan kampus dapat memaksimalkan mahasiswanya.  “Ini yang kami istilahkan UINSA bahan baku atau materialnya yang masuk ke kampus ini terbukti bagus. Jangan sampai maba ini jadi kupu-kupu (kuliah pulang kuliah  pulang). Tetapi mereka harus mampu maksimalkan ilmu yang dipelajari lewat beragam kegiatan kampus,” ujarnya. 

Menurut Emil, yang membedakan para mahasiswa berkompeten di dunia profesional adalah hal pengalaman yang dimiliki. Salah satu tempat yang bisa  membentuk pengalaman itu ada di dunia kampus. 

Emil melihat, banyak maba yang menyadari bahwa ijazah bukanlah jaminan  utama dalam menempuh pendidikan. Namun, yang terpenting adalah bagaimana mereka memiliki cita-cita untuk bisa terpenuhi melalui ilmu yang dipelajari. 

“Itu sebenarnya menjadi bekal untuk menjadi pribadi yang kreatif karena  sebenarnya untuk menguasai masa depan itu bukan hanya dengan teks atau teori semata. Tetapi justru kemampuan menjadi individu pembelajar yang aktif dan produktif di era milenial,” tandasnya. 

Dalam kesempatan itu, Emil juga memberi wejangan kepada maba yang ingin  menjadi guru setelah kuliah di UINSA. Menurut dia, menjadi guru di era milenial  tuntutannya tidak sekadar lebih pintar dari anak didiknya. Tetapi, seorang guru harus bisa mengenali potensi anak didiknya dan mampu memaksimalkan potensi mereka. 

Untuk itu, dirinya berharap, agar selama 4 
tahun ke depan, mereka tidak hanya 
mengejar indeks prestasi (IP) saja. Tetapi juga mencari cara dengan  mengkolaborasikan lintas disiplin ilmu yang ada. 

“Sebut saja jurusan humaniora, perlu paham mengenai sains teknologi dan  sebaliknya, teknologi perlu paham mengenai humaniora," jelasnya. 

Di akhir sambutannya, Emil menitipkan kepada maba untuk terus mengedepankan 
budi pekerti yang baik. Juga membangun pribadi yang baik serta memiliki etos kerja bagus. “Karena percuma kita punya orang yang kerjanya baik tetapi nggak ada budi  pekerti.  Akhirnya ketika bergaul di tengah-tengah masyarakat akan menjadi susah,” tutupnya. 

Kegiatan PBAK Mahasiswa Baru Tahun Akademik 2019 yang dilaksanakan 
UINSA Surabaya diikuti 4.467 mahasiswa dari 9 fakultas. Yakni, Fakultas Dakwah dan 
Komunikasi (FDK), Fakultas Adab dan Humaniora (FAHUM), Fakultas Ushuluddin dan Filsafat (FUF), Fakultas Syariah dan Hukum (FSH), Fakultas Tarbiyah dan Keguruan (FTK), Fakultas Sains dan Teknologi (FST), Fakultas Psikologi dan Kesehatan (FPK), Fakultas  Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI), serta Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP). 
 

 

Pewarta : M. Bahrul Marzuki
Editor :
Publisher :
-->

    Tidak ada artikel terkait

Redaksi: redaksi[at]batutimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]batutimes.com | marketing[at]batutimes.com
-->