Papan Larangan Tak Kurangi Aktivitas Penambangan Pasir Ilegal di Sungai Brantas

Kepala Sub-Divisi ASA 1/3 Jasa Tirta Hadi Witoyo (foto : Joko Pramono/Jatim Times)
Kepala Sub-Divisi ASA 1/3 Jasa Tirta Hadi Witoyo (foto : Joko Pramono/Jatim Times)

BATUTIMES - Aktivitas penambangan pasir ilegal di aliran Sungai Brantas tidak juga berkurang. Padahal, pihak Jasa Tirta sudah memasang papan larangan penambangan pasir di Kali Brantas.

Kepala Sub Divisi ASA 1/3 Jasa Tirta Hadi Witoyo meminta agar penambangan pasir di Kali Brantas dihentikan lantaran dampak lingkungannya yang begitu besar. “Kami harapkan kegiatan-kegiatan penambangan pasir di lapangan bisa dihentikan. Pasalnya,  kerusakan Kali Brantas, terutama di wilayah Tulungagung, sudah sedemikian parah dan perlu penangan khusus,” ujar Hadi.

Opsi penegakan hukum terhadap penambang pasir ilegal, lanjut Hadi, bukan merupakan ranahya. Untuk penegakan hukum, pihaknya menyerahkan kepada pihak kepolisian maupun satpol PP.

Jasa Tirta lebih memilih pendekatan secara persuasif, seperti sosialisasi kerusakan lingkungan oleh aktivitas penambangan pasir liar. "Dengan sosialisasi seperti ini, saya harap penambangan pasir bisa berhenti,” ungkapnya.

Saat disinggung tentang enggannya satpol PP dan polisi melakukan penindakan terhadap aktivitas penambangan ilegal lantaran menunggu permintaan dari Jasa Tirta, pria ramah ini mengaku sudah sering meminta bantuan kepada kedua instansi tersebut. “Kami selalu berkoordinasi dengan polisi dan satpol PP,” terang Hadi.

Tahun ini, Jasa Tirta sudah berkirim surat kepada kepolisian sebanyak dua kali. Namun belum ada respons dari aparat penegak hukum tersebut.

Dampak penambangan liar memang tidak terlihat secara lokal. Namun secara masif, sesuai data yang dimilikinya, ada penurunan dasar sungai setiap tahun.  Dampak penurunan dasar sungai akan berpengaruh dengan turunnya air tanah di sekitar Kali Brantas. 

Selain itu, bangunan yang berada di atas air, seperti jembatan,  kondisinya jadi menggantung lantaran penurunan dasar sungai. Tahun 2018, penurunan dasar sungai sudah mencapai 7 meter. Saat ini Jasa Tirta memperkirakan lebih dari 7 meter.

“Kondisi Jembatan Ngujang sendiri saat ini perlu diwaspadai karena musim hujan kemarin fondasi sebelah kiri sudah runtuh,” ucap Hadi.

Dari data yang dimilikinya, saat ini ada sekitar 8 titik lokasi penambangan ilegal, mulai dari Kademangan (Blitar), Rejotangan, hingga Ngantru. “Titiknya dengan inventarisasi kami tahun  2018, dari sisi jumlahnya berkurang, tapi dengan (cara) mekanisnya bertambah. Dulu 1 sekarang 4,” kata Hadi.

Pewarta : Joko Pramono
Editor : Yunan Helmy
Publisher :
-->
Redaksi: redaksi[at]batutimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]batutimes.com | marketing[at]batutimes.com
-->