Mulai Awal hingga Akhir Pengenalan Kampus , Unikama Bersih dari Aksi Perploncoan Mahasiswa

Para mahasiswa baru yang nampak mengisi hari terahkir P3T dengan senam dan berjoged bersama tanpa perpeloncoan (Anggara Sudiongko/MalangTIMES)
Para mahasiswa baru yang nampak mengisi hari terahkir P3T dengan senam dan berjoged bersama tanpa perpeloncoan (Anggara Sudiongko/MalangTIMES)

BATUTIMES - Dalam masa pengenalan lingkungan kampus, biasanya, memang sering kali terjadi aksi perpeloncoan, bullying ataupun kekerasan oleh senior terhadap yunior di kampus. 

Namun hal itu, nampaknya tak pernah terjadi di kampus multikultural, Universitas Kanjuruhan Malang (Unikama).

Hari terakhir pengenalan lingkungan kampus, Unikama yang dibalut dalam Program Pengenalan Pendidikan Tinggi (P3T), diakhiri dengan keceriaan para mahasiswa dengan melakukan senam, berjoged, tanam bunga, hingga lempar topi bersama disertai teriakan keras dari para mahasiswa menandai akhir P3T.

Rektor Unikama Dr. Pieter Sahertian, menjelaskan, sejak mulainya masa P3T, hingga sampai saat ini akan ditutup, pihaknya belum pernah sekalipun mendapatkan laporan ataupun keluhan mengenai adanya aksi perpeloncoan ataupun bullying.

"Saya tidak mendapatkan informasi keluhan tentang panitia yang bersikap maupun bertutur kata yang aneh-aneh.  Semua seperti apa adanya, dengan tetap menjunjung dan mengutamakan rasa kemanusian," jelasnya.

Lanjut Pieter, dari awal, panitia sudah di ultimatum untuk tidak melakukan hal-hal yang negatif seperti bullying maupun perpeloncoan.

Sebab, jika hal itu terjadi, tentunya akan membawa dampak negatif bagi mahasiswa maupun bagi kampus.

"Tidak ada perpeloncoan. Hal-hal seperti itu sudah tidak zaman. Kita perlakukan semua sama sebagai bagian warga kampus maupun keluarga besar Unikama," ungkap pria ramah ini.

Sementara itu, dengan berakhirnya kegiatan P3T ini, pihaknya berharap, agar para mahasiswa nantinya bisa beradaptasi dengan lingkungan baru menempuh bangku perkuliahan di Unikama. 

Sikap kemandirian harus dimiliki oleh para mahasiswa kedepannya. Sebab hal itu akan menjadi bekal dalam menempuh perkuliahan para mahasiswa.

"Dulu waktu SMA mereka masih dipantau guru,  sekarang ini kan relasi antara dosen dengan mahasiswa itu kan agak berbeda, nah ini mereka dituntut lebih mandiri, segala sesuatunya lebih mandiri. Jika ketemu dosen, kemudian mereka diberi tugas, kalau mereka tidak merespons dan mempunyai kesadaran diri, maka akan lambat dalam studinya. Tapi kalau mereka yang aktif dan inisiatif serta punya kemampuan untuk mengembangkan diri, maka akan cepat dalam menyelesaikan studinya," pungkasnya.

Pewarta : Anggara Sudiongko
Editor :
Publisher :
-->

    Tidak ada artikel terkait

Redaksi: redaksi[at]batutimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]batutimes.com | marketing[at]batutimes.com
-->