Kisah Pilu Istri Pejuang Demokrasi Kabupaten Malang Merawat Kedua Anaknya yang Sakit Kanker Usus dan Leukemia setelah Ditinggal Sang Suami untuk Selama-lamanya

Sofiyah (paling kanan) saat mendampingi rombongan Bawaslu Kabupaten Malang ketika menjenguk anak pertamanya yang divonis mengidap penyakit kanker usus usai suaminya meninggal saat bertugas menjadi pengawas pemilu (Foto : Istimewa)
Sofiyah (paling kanan) saat mendampingi rombongan Bawaslu Kabupaten Malang ketika menjenguk anak pertamanya yang divonis mengidap penyakit kanker usus usai suaminya meninggal saat bertugas menjadi pengawas pemilu (Foto : Istimewa)

BATUTIMES - Sabar, tabah, dan telaten. Tiga kata itu sepertinya pantas untuk menggambarkan sosok Sofiyah warga Desa Wonorejo, Kecamatan Lawang.

Bagaimana tidak, semenjak suaminya meninggal dunia Sofiyah harus berjuang untuk menjadi tulang punggung bagi keluarganya. 

Selain mencari nafkah, dia juga harus berjuang mendampingi putra putrinya yang saat ini di vonis dokter mengidap penyakit kronis.

”Suami saya meninggal pada bulan April lalu, mungkin karena kecapekan dan kurang istirahat saat menjadi pengawas pemilu membuat dia akhirnya meninggal dunia. Sejak suami tiada, saya merawat kedua anak kami yang saat ini sedang sakit,” kata Sofiyah.

Dengan kondisi mata yang tak henti-hentinya meneteskan air mata, Sofiyah menceritakan kisah memilukan yang dialaminya selama beberapa tahun belakangan ini. 

Seperti kebanyakan pasangan suami istri pada umumnya, sejak memutuskan menikah dan membina rumah tangga bersama suaminya yang bernama Rochmad Fadilla. 

Keduanya senantiasa istiqomah dan berdoa agar segera diberikan momongan.

Doa keluarga sederhana itupun akhirnya dikabulkan Tuhan. 

Wanita berkulit putih langsat ini dikabarkan telat datang bulan. 

Saat diperiksakan ke dokter kandungan, Sofiyah dinyatakan tengah mengandung putra pertamanya.

Sekitar 9 bulan berselang, janin yang dikandung Sofiyah akhirnya lahir ke dunia. 

Bayi berjenis kelamin perempuan itu diberi nama Nira Azizah. 

Semula tidak ada tanda mencurigakan akan tumbuh kembang si jabang bayi.

Namun, saat memasuki usia remaja, Nira Azizah mulai sering mengeluhkan sakit dibagian perutnya. 

Hal itu terjadi secara berulang-ulang. Semula pihak keluarga menganggap jika perempuan yang akrab disapa Nira itu hanya sakit maag.

Hingga akhirnya, sekitar enam bulan lalu Nira tak kuasa menahan rasa sakit yang dirasakan di pencernaannya tersebut. 

Merasa khawatir, Nira akhirnya dibawa oleh keluarganya untuk berobat ke rumah sakit. 

”Saat berobat, dokter mengatakan jika anak kami mengidap penyakit kanker usus,” terang Sofiyah.

Guna mengobati penyakitnya tersebut, Dokter menyarankan agar Nira segera dioprasi.

Mendengar keterangan tersebut, Sofiyah dan suaminya akhirnya menyetujuinya. 

Dengan sisa tabungan seadanya, Nira akhirnya menjalani langkah oprasi beberapa hari usai divonis mengidap kanker usus.

”Meski sudah menjalani berbagai macam langkah medis dan bahkan sudah dioprasi. Semakin hari kondisinya justru semakin memburuk, dokter mengatakan jika kanker usus yang diderita anak kami susah stadium tiga. Oleh karena itu dokter menyarankan agar dia (Nira) menjalani kemoterapi,” ungkap Sofiyah sambil mengusap air mata yang membasahi pipinya.

Sekitar dua bulan berselang, ganti Rochmad Fadilla yang pergi ke rumah sakit. 

Bukan untuk menemani sang buah hati menjalani kemoterapi. 

Suami Sofiyah ini pergi berobat lantaran mengeluhkan sakit setelah menjalankan tugas sebagai Pengawas Pemilu Desa Wonorejo, Kecamatan Lawang. 

”Meski sempat menjalani pengobatan, suami saya akhirnya meninggal dunia,” sambung Sofiyah dengan nada terisak-isak.

Tidak berhenti disitu saja, diwaktu yang nyaris bersamaan putra ketiga Sofiyah yang diketahui bernama Adio Kevien Seviano juga divonis dokter mengidap penyakit kronis. 

”Sejak menderita penyakit leukemia, anak ketiga saya hanya menghabiskan waktu didalam kamar. Dia juga terpaksa harus putus sekolah, karena saya tidak memiliki biaya. Untuk biaya pengobatan saja sudah kesusahan, apalagi membayar uang sekolah,” imbuh Sofiyah.

Menanggapi kisah memilukan yang dialami keluarga pejuang demokrasi ini, rombongan Bawaslu (Badan Pengawas Pemilu) Kabupaten Malang dikabarkan menyempatkan diri untuk bersilahturahmi ke rumah Sofiyah, Kamis (12/9/2019).

”Kami turut berbela sungkawa atas meninggalnya Rochmad Fadilla. Kami juga menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya atas pengabdian yang didedikasikan selama menjadi bagian dari keluarga besar Bawaslu,” kata George da Silva, selaku Komisioner Bawaslu saat dikonfirmasi MalangTIMES.com, Jumat (13/9/2019).

Pada kesempatan yang sama, rombongan keluarga besar Bawaslu Kabupaten Malang ini juga menyempatkan untuk memberikan santunan kepada keluarga yang ditinggalkan.

Yakni berupa penghargaan dan sejumlah donasi berbentuk uang.

”Sesuai mandat dari pusat, Bawaslu RI memberikan donasi senilai Rp 36 juta. Uang tersebut kami transfer langsung melalui rekening milik pihak keluarga korban yang meninggal saat bertugas. Sehingga kami pastikan tidak ada potongan. Meski tidak seberapa, semoga bisa sedikit meringankan beban keluarga korban,” ujar George.

 

Pewarta : Ashaq Lupito
Editor :
Publisher :
-->

    Tidak ada artikel terkait

Redaksi: redaksi[at]batutimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]batutimes.com | marketing[at]batutimes.com
-->