Plt Bupati Sanusi Restui Alih Fungsi Lahan Pertanian Kepanjen, Ini Kata Pakar Pertanahan dan Sumber Daya Alam

Ilustrasi penataan kota dengan konsep green building (Ist)
Ilustrasi penataan kota dengan konsep green building (Ist)

BATUTIMES - Plt Bupati Malang Sanusi yang dimungkinkan akan segera dilantik menjadi Bupati Malang pada September 2019 ini sempat menyampaikan harapan besarnya untuk Kepanjen. 

Yakni, terkait mewujudkan Kepanjen sebagai pusat pemerintahan Kabupaten Malang, sekaligus kota perekonomian dan industri, ke depannya.

Walaupun sebenarnya tata ruang dan wilayah dalam Peraturan Daerah (Perda) Nomor 3 tahun 2010 masih dalam proses penggodokan untuk dilakukan revisi. 

Dikarenakan sudah tidak menampung kebutuhan dan cepatnya pembangunan di berbagai wilayah di Kabupaten Malang.

Tapi harapan besar Sanusi telah secara masif disosialisasikan kepada berbagai pihak terkait hal itu. 

Bahkan, walau harus akhirnya mengambil kebijakan untuk alih fungsi lahan pertanian di Kepanjen yang notabene merupakan salah satu lumbung pangan Kabupaten Malang.

Seperti diketahui, luas sawah irigasi di Kepanjen mencapai 2.152 hektar (ha) sampai tahun 2017 lalu. 

Kondisi yang terbilang luas di antara 33 kecamatan di Kabupaten Malang, yakni di urutan ketiga terluas wilayah sawah irigasi, dimana Kecamatan Gondanglegi di urutan pertama dengan luas 2.696 ha dan Pagelaran (2.650 ha) di urutan kedua.

"Untuk ke sana (mewujudkan Kepanjen sebagai pusat pemerintahan dan ekonomi, red) kita perlu membangun. Jadi, biar nggak hanya sawah dan padi yang ada di Kepanjen," ucap Sanusi beberapa waktu lalu yang merestui adanya alih fungsi lahan persawahan di Kepanjen. 

Kebijakan penataan tata ruang dan wilayah Kepanjen itulah yang membuat Didik S Setyadi Pakar Pertanahan dan Sumber Daya Alam, angkat bicara.

Didik menyampaikan penataan wilayah perkotaan jangan sampai hanya berdimensi ekonomi saja. Tapi juga harus memperhatikan daya dukung ekologi dan sosiokulturalnya.

"Saya rasa semua kota-kota besar termasuk Kabupaten Malang perlu untuk lebih memperhatikan tata ruang Kota yang tidak hanya fokus pada kepentingan ekonomi semata," ucap Didik yang juga menegaskan, pemanfaatan ruang untuk segala aspek kehidupan perlu dibuat secara seimbang baik untuk saat sekarang apalagi 20 - 50 tahun ke depan.

Alumni Fakultas Hukum Universitas Airlangga ini, juga menegaskan jumlah penduduk semakin meningkat signifikan setiap tahunnya.

Peningkatan penduduk itu tentunya membutuhkan daya dukung lingkungan hidup yang selaras dengan pertumbuhan pembangunan fisik yang ada. 

Didik menyampaikan, penataan kota tentunya perlu diperhatikan beberapa aspek yang akan menjadi pendukung terwujudnya kota hijau, cerdas dan berkelanjutan. 

"Dalam penataan kota perlu diperhatikan daya dukung meliputi air, udara, energi, pangan, papan dan infrastruktur," urainya.

Berbagai aspek pendukung dan integral inilah yang harus diselaraskan dalam melakukan penataan kota Kepanjen melalui perumusan detail dan sesuai dengan tata ruang dan wilayah yang ada.

Hal ini pula yang diusung oleh Dinas Perumahan Kawasan Permukiman dan Cipta Karya dengan konsep Green Building yang saat ini terus diwujudkan oleh berbagai negara dalam penataan wilayah perkotaan.

Pewarta : Dede Nana
Editor :
Publisher :
-->

    Tidak ada artikel terkait

Redaksi: redaksi[at]batutimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]batutimes.com | marketing[at]batutimes.com
-->