Maraknya Produk Impor Bikin Produsen Konveksi Lokal Kembang Kempis

Produk industri fashion skala rumahan makin terdesak maraknya produk impor. (Foto: Nurlayla Ratri/MalangTIMES)
Produk industri fashion skala rumahan makin terdesak maraknya produk impor. (Foto: Nurlayla Ratri/MalangTIMES)

BATUTIMES - Pola konsumsi masyarakat masih terjaga di tengah lemahnya rupiah beberapa waktu terakhir.

Tercatat pertumbuhan konsumsi sepanjang semester I 2019 sekitar 5 persen, dengan objek konsumsi terbesar salah satunya adalah tekstil

Sayangnya, tingginya konsumsi tekstil di tingkat konsumen tidak dirasakan para produsen lokal akibat maraknya produk impor. 

Sejumlah konveksi dan perajin produk fashion di Malang bahkan mengaku mengalami penurunan produksi. 

Pengusaha juga mesti mengakali biaya produksi untuk menekan harga jual agar tetap laku di pasaran. Seperti yang dialami Rumah Konveksi Erfina di Kedungkandang, Kota Malang. 

"Sebenarnya mulai lesu itu sudah beberapa tahun terakhir, tetapi yang paling terasa yaa sejak akhir 2018 lalu hingga tahun ini. Biasanya permintaan pembuatan blus itu satu minggu tiga sampai empat kodi, sekarang paling dua kodi," ujar Erni Fitriana, pemilik konveksi. Untuk diketahui, satu kodi merupakan satuan produk tekstil dengan jumlah 20 buah per kodi.

Dia mengaku khusus membuat blus untuk kemudian dikirim ke pengepul. Baik bahan maupun model, disesuaikan dengan permintaan pengepul. 

"Tetapi ada juga yang dijual sendiri, diambil oleh pedagang-pedagang di Pasar Besar. Sekarang saingannya dengan impor, blus-blusnya banyak macam dan murah-murah," terangnya. 

Sementara itu, Nurul Hidayati, owner rumah kreatif Almira Handmade mengaku mesti menekan keuntungan di tengah melambungnya harga bahan baku. 

Pasalnya, sejak awal 2019 lalu terjadi kenaikan harga bahan baku yang signifikan. 

"Bahan baku kami sebutnya ganti harga, tidak hanya naik, naiknya nggak ukuran. Tetapi harga produk nggak bisa naik banyak karena kita kan menjaga pasar," keluh Nurul. 

Menurutnya, kenaikan kenaikan bahan baku tidak sebanding dengan kenaikan harga barang.

"Semuanya naik mulai kain, benang sulam dan bahan baku lainnya. Misalnya benang dari harga Rp 10 ribu per gulung menjadi Rp 18 ribu," sebutnya. 

Selain itu, produksi juga masih terbebani dengan naiknya ongkos produksi dari sisi gaji karyawan. 

Saat ini, rumah fashion yang berlokasi di Jalan Sunan Muria II No 16 Kecamatan Lowokwaru itu memiliki puluhan karyawan. 

Nurul menyebut, yang sekarang digemari adalah model-model tunik dan gamis. Keberadaan produk tunik dan gamis impor, menurutnya juga cukup berpengaruh. 

"Kami masih punya nilai tawar lebih karena menambahkan sentuhan hiasan sulam handmade," tuturnya. 

Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filamen Indonesia (Apsyfi) mencatat menurunnya pertumbuhan industri tekstil dan produk tekstil (TPT). 

Pada kuartal I 2019, Apsyfi mencatat pertumbuhan masih berada pada kisaran 1 persen. Kondisi kuartal II kemudian mengalami pelemahan dan dipastikan berlanjut hingga kuartal III dan IV.

Sementara sepanjang 2018 lalu, pertumbuhan impor TPT disebutkan mengalami lonjakan terburuk dalam 5 tahun terakhir yaitu sebesar 13,8 persen, sedangkan ekspor hanya naik sebesar 0,9 persen. 

Apsyfi memperkirakan pertumbuhan di sektor hulu industri tekstil bakal negatif. 

Hal itu menyusul serbuan impor produk tekstil yang masuk ke dalam negeri pada 2019 ini. 

Pewarta : Nurlayla Ratri
Editor :
Publisher :
-->

    Tidak ada artikel terkait

Redaksi: redaksi[at]batutimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]batutimes.com | marketing[at]batutimes.com
-->