Stok Melimpah, Tembakau Lokal di Kabupaten Blitar Banyak Diminati

Ilustrasi.(Foto : Aunur Rofiq/BlitarTIMES)
Ilustrasi.(Foto : Aunur Rofiq/BlitarTIMES)

BATUTIMES - Dinas Pertanian dan Pangan membantah tembakau lokal di Kabupaten Blitar cukup melimpah serta  banyak diminati petani dan masyarakat. 

Setiap tahun ada ratusan hektare lahan pertanian yang ditanami tembakau unggulan asli Blitar. Mulai dari tembakau Kedu Lulang ataupun Selopuro. 

Kasi Tanaman Semusim Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Blitar Harsono mengatakan, ada sedikit perbedaan persepsi di masyarakat mengenai tembakau khas Blitar.

Dia mengungkapkan, tembakau varietas Selopuro sejatinya adalah sebutan untuk tembakau lokal. Yakni tembakau Kedu Lulang atau Kenongo. Namun dalam tata niaga, tembakau tersebut lebih familier dengan sebutan tembakau Selopuro. 

Itu karena di daerah ini ada banyak petani dan pedagang yang menjajakan tembakau lokal. "Jadi, biar mudah, disebut namanya tembakau Selopuro. Aslinya itu tembakau Kedu Lulang atau Kenongo," ungkap Harsono.

Dia menambahkan, tembakau tersebut tidak hanya berasal dari wilayah Selopuro. Bahkan jika dilihat dari luasan area tanam, wilayah Talun justru lebih banyak ketimbang produksi di Selopuro. Namun, para pedagang atau pembeli dari daerah sering mendapatkan tembakau lokal dari daerah Selopuro. "Tembakau di Selopuro itu juga berasal dari daerah lain, tidak banyak dari wilayah setempat," katanya.

Harsono menyebut ada dua jenis tembakau yang kini banyak ditanam oleh para petani. Selain tembakau lokal (Kedu Lulang/Kenongo), ada tembakau virginia. Tembakau virginia ini biasanya ditanam oleh petani yang bermitra dengan pabrik atau perusahaan rokok. Mereka tidak repot masalah bibit dan biaya perawatan. Sebab, proses produksinya dibantu perusahaan.

Hal ini berbeda dengan tembakau lokal. Hanya, harga untuk tembakau lokal jauh lebih mahal ketimbang virginia. "Kalau harga tembakau lokal kini berkisar di Rp 50 ribu per kilogram rajang kering. Sedangkan tembakau virginia rata-rata Rp 30 ribu per kilonya," paparnya.

Dilihat dari luasan tanam, tembakau lokal juga masih lebih banyak. Yakni 116 hektare untuk tembakau virginia dan 441 hektare untuk tembakau lokal. 

“Namun jika dilihat dari hasil produksinya memang berbeda. Sebab untuk tembakau virginia, gagang tembakau juga ikut dirajang dan ditimbang. Berbeda dengan tembakau lokal,” pungkas Harsono.

Pewarta : Aunur Rofiq
Editor :
Publisher :
-->

    Tidak ada artikel terkait

Redaksi: redaksi[at]batutimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]batutimes.com | marketing[at]batutimes.com
-->