Bupati, Jamasan Kiai Upas Masuk Warisan Budaya Tak Benda

Bupati Maryoto Birowo saat memberikan Tombak Kiai Upas untuk dijamas (foto : Joko Pramono/ JatimTIMES)
Bupati Maryoto Birowo saat memberikan Tombak Kiai Upas untuk dijamas (foto : Joko Pramono/ JatimTIMES)

BATUTIMES - Jamasan tombak Kiai Upas yang digelar rutin tiap bulan Suro oleh Pemkab Tulungagung dimasukkan sebagai warisan budaya tak benda.  Bukan tanpa alasan, ritual yang dilakukan tiap hari Jum’at Legi di bulan Suro ini dijadikan warisan budaya.

“Jadi jamasan ini sudah jadi agenda kebudayaan tiap tahun yang ditangani Pemkab Tulungagung lewat Dinas Kebudayaan dan Pariwisata,” ujar Bupati Tulungagng, Maryoto Birowo, Jum’at (13/9/19).

Tombak Kiai Upas menurut kepercayaan sebagian masyarakat Tulungagung merupakan sebuah benda bertuah yang mampu menghentikan banjir besar di kota marmer ini.

Menurut kepercayaan pula, tombak ini mampu menghalau pasukan penjajah, Belanda dan Jepang di Tulungagung.

Tombak Kiai Upas sendiri merupakan tombak milik keluarga Pringgokusumo, Bupati Tulungagung ke X, perawatan dan pembiayaan prosesi yang awalnya ditanggung keluarga Pringgokusumo telah diambil alih oleh Pemkab Tulungagung.

Meski menjadi pusaka andalan Tulungagung, nyatanya tombak ini ditempatkan di gedung kantor arsip, bersebelahan dengan Wisma Kanjengan tempat Kiai Upas sebelum diambil alih oleh Pemkab Tulungagung.

Sebagian orang menilai, seharusnya Kiai Upas ditempatkan di Pendopo Tulungagung, lantaran nilai sakral dan historisnya.

“Ini berkaitan dengan budaya, jadi perlu dibicarakan oleh sesepuh, dan ini perlu pertimbangan adat dan adab,” tandas Maryoto.

Sementara itu juru jamas Kiai Upas, Winarto mengatakan ada beberapa ritual khusus dalam prosesi jamasan ini.

Diantaranya menyiapkan beberapa sesajen yang wajib ada dalam ritual ini. Selain itu beberapa benda juga wajib ada untuk ritual seperti warangan, minyak cendana, jeruk nipis, dan tebu.

Sebelum dijamas, tombak dikeluarkan dari penyimpananya dengan diangkat oleh forkopimda secara bersama. Lalu dibuka kain pembungkusnya yang berlapis 2. Setelah dilepas kain pembungkusnya, Tombak Kiai Upas dikeluarkan dari warangka (wadah tombak).

“Dibasuhnya 3 kali dengan jeruk nipis, lalu diwarangi (diberi warangan) dikeringkan lalu diberi minyak wangi dan dikeringkan. Setelah itu dimasukkan lagi ke warangkanya,” ujar Winarto.

Proses jamasan memakan waktu sekitar 40 menit dengan diiringi kepulan asap kemenyan pekat.

Setelah proses jamasan selesai, warga berebut air bekas jamasan untuk mencari berkahnya.

 

Pewarta : Joko Pramono
Editor :
Publisher :
-->

    Tidak ada artikel terkait

Redaksi: redaksi[at]batutimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]batutimes.com | marketing[at]batutimes.com
-->