KITAB INGATAN 73

Ilustrasi puisi (Tambo)
Ilustrasi puisi (Tambo)

BATUTIMES - Batu

*dd nana

1/

Kasar dan keras aku

Karena itu dinamakan batu

Yang remuk dan ditatah untuk menyekat

Mata. Yang sebagian sembunyi di ceruk waktu.

Jangan kau tanya umurku yang berlumut

Dan diam dalam segala kemelut

Tanyakan saja bagaimana aku bisa bisu

Menahan rindu pada waktu

Mengendapkan ngilu pada sunyi

Bunyi yang sembunyi

Untuk menyadap hening yang asing

Walau akhirnya harus berseteru dengan waktu.

Atau, kau tanyakan saja bagaimana aku mencinta

Dalam pura-pura cadas yang akan membuat mata

Tertusuk perih air mata.

Namaku batu

Karenanya kasar dan keras aku.

Kelak, kalau kau punya waktu

Akan ku bedah urat-uratku sambil kuhidangkan

Secangkir sejarah tentang tangisan

Paling purba. Hingga kita sama-sama mengerti

Menjalani hidup tak selalu seperti yang diguratkan

Pada lembaran lembut ombak yang pernah kau lukis itu.

Mengalir, menghempas dan terburai dan sejenak pecah

Pada tepi-tepi yang disebut takdir.

Namaku batu, puan

Kasar pada raga sendiri

Keras pada rindu yang letih menujumu

Alamat yang belum kutuliskan sebagai takdir

Dalam diam sunyi yang sempat dicatat

Tangan-tangan manusia yang jejaknya limbung

Karena cahaya cinta.

2/

Digenggam tangannya aku rasakan

Ngilu yang lebih perih dari luka yang menginap pada raga

Legamnya yang ditempa kisah-kisah.

Awalnya, adalah harmoni

Dan aku yang batu hanyalah penyaksi

Yang tak perlu untuk bersumpah apapun dihadapan siapapun

Nyaman dalam bentukku, berumah pada segala ceruk yang

Membuatnya bertanya.

"Kenapa tidak untukku? Bukankah aku yang punya hak atas

Segala yang dihidangkan waktu."

"Belajarlah dulu menyimak firman, anakku. Belajarlah dulu untuk sembunyikan nyala apimu. Belajarlah pada batu."

Digenggamnya aku di tangannya yang gigil itu

Setelah pelajaran yang tak pernah memiliki tepi

Membuatnya frustasi sebagai laki-laki paling awal diciptakan.

Di hadapannya sesosok tubuh tengkurap

Di tangannya, aku yang batu menyimpan warna paling menyala

Darah.

Di angkasa koak burung menyanyikan kisah

Serupa kutukan atas tangan yang masih saja aku lihat gemetar

Dan aku yang malu dengan lumuran warna yang bukan milikku.

Awalnya seperti itu, puan.

Sila kau cicipi secangkir air mata ini.

3/

Takdirku itu sunyi

Mengawini segala bunyi yang bersembunyi

Sebelum kau pindahkan rumahku pada riuh bunyi

Karena kalian selalu yakin, pada yang pecah dan retak

Segala peristiwa bisa jadi ingatan.


*Hanya penikmat kopi lokal
 

 

Editor : Redaksi
Publisher :
-->
Redaksi: redaksi[at]batutimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]batutimes.com | marketing[at]batutimes.com
-->