Perempuan Merokok Sudah Ada sejak Mataram Kuno, Warganet: Rokok Memang untuk Perempuan

Sampul Novel Cigarette Girl karya Ratih Kumala. (Ist)
Sampul Novel Cigarette Girl karya Ratih Kumala. (Ist)

BATUTIMES - Sebuah pertanyaan dilontarkan oleh komunitas kretek saat pemerintah telah menyepakati kenaikan tarif cukai rokok sebesar 23 persen dan harga jual eceran naik 35 persen. Kebijakan itu akan mulai diterapkan di tahun 2020 datang.

Pertanyaan komunitas kretek melalui akun Twitter @KomunitasKretek tidak terkait dampak adanya kebijakan itu. Tapi melontarkan pertanyaan terkait perempuan merokok.
"Gimana pendapat kalian soal perempuan merokok?" tanya @KomunitasKretek.

Pertanyaan klasik itu pun ternyata masih cukup banyak mengundang jawaban warganet. Seperti yang disampaikan @uburuburalami yang mengatakan bahwa dalam kajian budaya, rokok sebenarnya justru diperuntukkan bagi perempuan.

"...rokok sebenernya justru diperuntukan untuk perempuan.. untuk laki2, harusnya cerutu, tembakau pipa, atau semacamnya.. yaa.. kita hidup di tengah2 masyarakat yang kolektif, yang terlalu mencampuri urusan satu sama lain...yang terlalu stigmatif..." jawabnya atas pertanyaan @KomunitasKretek.

Walau sampai saat ini pernyataan itu masih saja jadi perdebatan, beberapa literatur terkait perempuan merokok telah ada sejak zaman Mataram Kuno. Tapi tentunya, pada zaman itu perempuan merokok bukan untuk gaya hidup ataupun sekdar menikmati saja. Rokok dijadikan simbol perlawanan dan pemberontakan bagi perempuan yang ditujukan kepada pihak kerajaan yang ingin menjadikan mereka selir. Pasalnya, pada saat itu perempuan tidak bisa menolak hanya dengan kata-kata saja. 

Nilai-nilai kultur Jawa memosisikan perempuan harus berperilaku feminin, yaitu dengan cara “diam” dan memakai cara yang halus untuk melakukan bantahan atau perlawanan. Tidak pernah menunjukan kejengkelan meski marah dan tidak pernah mengatakan “jangan” secara verbal meski hendak melarang. Dengan rokok inilah. para perempuan di zaman itu  menunjukkan hak mereka untuk menolak dijadikan selir kerajaan (Kencoro, 2011). 

@rahmadiandrnt pun memberikan pendapatnya juga atas pertanyaan @KomunitasKretek. Dirinya mengatakan, "Merokok atau tidak merokok seorang wanita tidak akan merubah kodratnya, sifatnya, etikanya, rupanya dan apa apa yang tuhan berikan pada dia! Mau rokok kretek, filter ataupun ganja sekalipun! Kalo tabiatnya brengsek ya breksek lah dia bukan karna "rokoknya"."

Sebuah buku karya Yusuf Bilyarta (YB) Mangunwijaya (alm) yang berjudul Roro Mendut kembali menegaskan terkait perempuan merokok. Secara apik, YB Mangunwijaya menyuguhkan bentuk lain perlawanan seorang Mendut yang merupakan putri boyongan atau tawanan Tumenggung Wiraguna, panglima Kerajaan Mataram. 

Sebagai perempuan Jawa, Mendut mencoba melakukan perlawanan atas keinginan sang panglima yang akan menjadikannya seorang istri atau tepatnya selir dikarenakan Wiraguna telah memiliki isteri sah. Bahkan telah memiliki empat selir sekaligus. Selain tidak memiliki rasa cinta, Mendut juga telah menjatuhkan hatinya kepada lelaki bernama Pranacita. 

Sejak menjadi tahanan  Wiraguna, Mendut sudah jelas-jelas menolak untuk dipersunting. Walau berbagai upaya telah dilakukan Wiraguna, Mendut tetap menolaknya. Sampai akhirnya Wiraguna marah dan memberikan sanksi, yaitu Mendut harus membayar sebanyak lima tael kepadanya setiap hari. 

Rokok yang memberinya inspirasi. Dirinya pun menerjunkan diri menjadi penjual sekaligus penikmat rokok. Sesuatu yang tentu membuat sosoknya sebagai perempuan Jawa tercoreng dengan kebiasaan mengisap rokok yang hanya dilakukan oleh kaum hawa.

Rokok menjadi  strategi seorang wanita Jawa yang berjuang memperoleh kembali otoritas hidupnya. Hanya dengan menjadi penikmat rokok, Mendut menunjukan sikapnya, menentang kekuasaan yang membuat kebebasan dalam menentukan jalan hidupnya sendiri dikekang.

Beberapa karya tulis ini pula yang menjadi jawaban atas pertanyaan perempuan merokok. Bahkan, Peter Parkitt yang memakai akun @boyanezman menuliskan, "Apa yg anda inginkan dr jawaban atas pertanyaan itu kawan... perempuan juga manusia. Nilai saja diri kita (siapapun:laki-perempuan), hak merokok dan menikmatinya sama saja. Toh harga akan naik 35% per linting ga pilih jenis kelamin."

 

Pewarta : Dede Nana
Editor : Yunan Helmy
Publisher :
-->
Redaksi: redaksi[at]batutimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]batutimes.com | marketing[at]batutimes.com
-->