Ingin Tekan Gas Rumah Kaca, DLH Kota Malang Bakal Bangun Hutan Kota di Setiap Kecamatan

Kepala Bidang Tata Lingkungan Hidup DLH Kota Malang, Arif Tri Sastyawan S.STP, M.Si (Hendra Saputra)
Kepala Bidang Tata Lingkungan Hidup DLH Kota Malang, Arif Tri Sastyawan S.STP, M.Si (Hendra Saputra)

BATUTIMES - Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Malang berupaya keras mewujudkan ruang terbuka hijau dalam hal ini seperti hutan Malabar yang bisa menekan Gas Rumah Kaca (GRK). Tujuannya untuk membuat Kota Malang semakin terlihat sejuk dan terlihat tetap segar. 

Untuk mewujudkan itu, DLH Kota Malang ingin memiliki satu hutan di setiap kecamatan. Hal tersebut sudah masuk rancangan dan akan segera diaudiensi kepada Wali Kota Malang. "Program untuk laporan ke bapak Wali Kota bahwa kami mengharapkan ada ruang terbuka hijau yang ada di Kota Malang. Jadi nanti kami laporkan bahwa kemarin kami dapat surat edaran dari Kementerian Dalam Negeri juga berkaitan dengan penghijauan. Paling tidak di tahun depan sudah ada perencanaan kami dari DLH selaku ujung tombak dari masalah penghijauan," ujar Kepala Bidang Tata Lingkungan Hidup DLH Kota Malang, Arif Tri Sastyawan S.STP, M.Si kepada MalangTIMES.

Arif berharap program pembukaan lahan baru untuk ruang terbuka hijau nantinya dapat disetujui. "Rencana kami, minimal ada 5 lokasi di masing-masing kecamatan. Biar mengurangi dari polusi yang dihasilkan setiap harinya. Dan bisa mencapai target di tingkat nasional itu bisa mengurangi 30% atau bisa lebih GRK," katanya.

Sementara untuk lokasi di masing-masing kecamatan, Arif menjelaskan bahwa ia belum berani mengatakan lokasi pasti yang akan digunakan sebagai hutan kota.

"Lokasinya saya belum berani bilang, cuma kami sudah titikkan di beberapa tempat, jadi ini nanti kalau misalkan jadi bapak Walikota menyetujui terus dewan juga menyetujui mudah-mudahan ini bisa menjadi target yang ada di Jawa Timur juga," ungkapnya.

Di sisi lain, Arif yakin jika rencana pembangunan hutan kota ini masyarakat akan sangat setuju karena hal itu juga untuk kebaikan masyarakat di masa yang akan datang. "Insya Allah kalau orang mau bangun hutan itu pasti warga setuju, kecuali kalau mau bangun mall. Karena ada tanahnya pemkot seluas misalkan 10.000 meter persegi kami bangun hutan kalau ada orang yang tidak setuju berarti orang itu perlu dipertanyakan," pungkasnya.

Pewarta : Hendra Saputra
Editor :
Publisher :
-->

    Tidak ada artikel terkait

Redaksi: redaksi[at]batutimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]batutimes.com | marketing[at]batutimes.com
-->