Jokowi: Percepat Holding BUMN, Jangan Lupakan UMKM

Presiden Jokowi (tengah) bersama Menteri Koordinator bidang Perekonomian Darmin Nasution, Menteri BUMN Rini Soemarno, Sekretaris Kabinet Pramono Anung, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati. (Foto: Setpres for BatuTIMES)
Presiden Jokowi (tengah) bersama Menteri Koordinator bidang Perekonomian Darmin Nasution, Menteri BUMN Rini Soemarno, Sekretaris Kabinet Pramono Anung, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati. (Foto: Setpres for BatuTIMES)

BATUTIMES, JAKARTA - Presiden Joko Widodo mengajak seluruh pihak untuk berpikir optimistis dalam menghadapi perekonomian negara, di tengah kondisi global yang tak menentu.

Presiden menyampaikan hal itu di hadapan ratusan petinggi BUMN dalam acara pembukaan Executive Leadership Program (ELP) bagi Direksi BUMN di Istana Negara, Jakarta, Rabu (25/1/2017).

Optimisme presiden itu karena sebagian besar prediksi menunjukkan angka pertumbuhan ekonomi Indonesia dengan kisaran 5 hingga 5,5 persen.

"Artinya apa? Di situ kita ini harusnya ada rasa optimis. Kemudian pendapatan negara di 2017 diperkirakan muncul angka Rp1.750 triliun, belanja negara Rp2.080 triliun. Kalau masih ada yang pesimis, mau apa lagi? Untuk apa kerja kalau pesimis? Kerja itu harus optimis. Tapi optimisme yang realistis. Optimisme yang berpijak pada kondisi objektif," tegasnya.

Dalam kesempatan tersebut, Kepala Negara mengingatkan rencana pembentukan holding BUMN. Presiden Joko Widodo menginginkan dapat secara cepat diselesaikan. Namun, kecepatan harus diiringi dengan kehati-hatian.

"Saya garis bawahi, hati-hati kalkulasinya. Cepat, tapi kalkulasinya yang matang. Jangan asal gabung, jangan asal besar. Arahnya dan tujuannya baik, tetapi prosesnya harus betul-betul hati-hati. Karena ke depan harus dikalkulasi betul mengenai manajemennya seperti apa, supervisinya seperti apa, tata kelolanya seperti apa, efisiensinya seperti apa. Betul-betul harus dihitung," jelasnya.

Presiden juga menginstruksikan agar masyarakat dapat berperan dalam proses pembentukan holding BUMN tersebut. Beliau meminta transparansi proses agar seluruh pihak dapat memberikan masukan demi kebaikan BUMN ke depannya.

"Jadi libatkan banyak institusi, terbuka, sehingga semua orang bisa memberikan masukan yang baik untuk perbaikan BUMN kita. Saya optimis sekali kita akan menjadi baik," yakinnya.

Jokowi juga memberikan gambarannya sejumlah peluang bisnis yang masih belum dijajaki oleh BUMN di Indonesia.

"Contohnya BPO (business process outsourcing), tidak pernah dilirik, tidak ada yang lihat. Tapi di Filipina, yang saya baca, itu per tahun bisa mencapai turn over-nya USD 25 miliar. Dan yang bisa diangkut ke sana ada 130 ribu tenaga kerja anak-anak muda. Ini bisnis jasa," ungkapnya.

Presiden berpesan dalam menjalankan bisnisnya, BUMN lebih berpihak pada orientasi pengembangan usaha-usaha kecil dan menengah. Sebab, kesenjangan antara kaya dan miskin masih lebar.

"Sekali lagi, ini adalah keberpihakan. Saya ingin mengingatkan, jangan lupa," ucapnya.

Mengakhiri arahannya, Kepala Negara menyinggung soal potensi tindak pidana di kalangan petinggi BUMN. Dengan tegas Presiden mewanti-wanti jajarannya agar berhati-hati dalam menjalankan pekerjaannya.

"Kenapa saya mengingatkan ini? Karena saya mencintai saudara-saudara semua, jangan sampai kena. Saya ingin BUMN kita ini bisa melompat dan saya lihat ada kesempatan dan peluang untuk itu," tutup Presiden.

Hadir dalam acara tersebut diantaranya Menteri Koordinator bidang Perekonomian Darmin Nasution, Menteri BUMN Rini Soemarno, Sekretaris Kabinet Pramono Anung, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, Menteri PU dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimuljono dan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti.(*)

Pewarta : Yos
Editor : Yosi Arbianto
Publisher : Yosi Arbianto
-->
Redaksi: redaksi[at]batutimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]batutimes.com | marketing[at]batutimes.com
-->